Tampilkan postingan dengan label Kisah hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Agustus 2012

Double Jeopardy

Pernah dengar film yang berjudul 'Double Jeopardy'? Atau malah sudah pernah menontonnya? Film keluaran tahun 1999 ini baru semalam bunda lihat kesian deh gue. Gara-gara karna sakit gigi yang bikin ga bisa tidur, akhirnya tertontonlah film ini sungkem ke sakit gigi :D.

Ceritanya sih agak loncat-loncat gitu yaa, jadi musti bener-bener melotot deh nontonnya plus fokus baca terjemahannya, sampe ga berasa nih gigi yg lagi sakit hahaha...

Kisah tentang seorang wanita bernama Elizabeth Parsons (Libby) yg hidup bahagia bersama suaminya Nicholas Parsons (Nick) dan anaknya Mathews Parsons (Matty). Hingga terjadilah suatu tragedi ketika Libby dan suaminya sedang berlayar, dan menemukan dirinya terbangun dg berlumur darah dan suami yg menghilang. Yang membuatnya kemudian menjadi tertuduh pembunuh suaminya dg motif ingin mendapatkan polis asuransi senilai 2 juta dollar.

Khawatir dengan keselamatan Matty, dititipkanlah pada Angela Green (Angie) sahabatnya sementara Libby menjalani hukuman selama 6 tahun penjara. Tapi ketika berkomunikasi dg Matty via telepon, Libby mendengar suara Nick suaminya. Sadarlah Libby bahwa ia telah dijebak. Hingga akhirnya ia dibebaskan dg bersyarat.

Pengalaman di penjara mengajarkan Libby bahwa seseorang yang telah dinyatakan meninggal oleh hukum (UU AS), maka pelakunya tidak akan dikenakan hukuman untuk kedua kalinya bila membunuh orang yg sama utk kedua kalinya (double jeopardy). Bertekadlah Libby mencari Angie dan Matty (yang berkali-kali pindah rumah) serta membalas dendam pada Nick (yg telah berkali-kali berganti nama).

Banyak banget yang bunda ambil film ini, diantaranya kasih sayang seorang ibu yang sangat besar pada anaknya. Libby ini selama di penjara ga ada seharipun tanpa memikirkan keadaan Matty. Bahagiakah Matty, masih akan ingatkah Matty ketika bertemu kembali dengan ibunya, dan lain sebagainya.

Yang paling mengharukan dari film ini, adalah saat Libby berhasil bertemu dengan anaknya. Matty ternyata masih ingat dengan ibunya walaupun telah berpisah bertahun-tahun lalu. Menurut film ini, seorang anak tidak akan pernah lupa suara ibunya dan panggilan khas ibunya, bahkan saat si anak masih bayi sekalipun, ia sudah mengenal dengan baik suara ibunya.

Kecintaan akan anak jg membuat seorang ibu mampu melakukan hal-hal luar biasa yang sebelumnya (bahkan) ga pernah terlintas olehnya. Even yang berbahaya sekalipun. Seperti yang pernah bunda rasain, dari ga bisa mandiin shishil waktu bayi gendong bayi aja takut jatoh, trus maksain diri, akhirnya jd biasa. Begitu juga dg potong kuku bayi yg tipis plus transparan ngeri ga sih liat kuku setipis itu hehe, pakein baju, memerah ASI, bikin MPASI sendiri, dll dll.

Fiuhh... waktu shishil bayi aja udah banyaakkkk banget yg bunda pelajari, apalagi sekarang... yang anaknya udah ceriwis banget... sumpahh makin banyak lagi yg bunda pelajari. Serasa ga ada habis-habisnya ilmu-ilmu baru yang bunda pelajari seiring perkembangan shishil.

Dan bunda yakin masih banyak banget hal-hal baru yang nantinya akan bunda pelajari, seiring dengan perkembangan shishil di SD, SMP, SMA, dan selanjutnya. Semoga aja ketika ada adiknya shishil kelak, bunda ga lupa lagi cara merawat bayi hahahaha...

Makasih banyak ya sayang, telah memberi bunda kesempatan untuk mempelajari banyak hal bersama tumbuh kembang shishil :)

Rabu, 23 Maret 2011

Aku Ingin Menjadi Pendampingmu (Part 1)




Sita terdiam. Seakan tak percaya bahwa dua garis merah itu akan muncul dilembaran test pack yang dipegangnya.

"Aku hamil..." lirih sita yang hampir tak terdengar

Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan. Apakah Todi mau mempertanggung jawabkan perbuatannya ini. Bagaimana pula aku harus memberitahukan orangtuaku. Berikan aku petunjuk-Mu Ya Tuhan.

Pagi itu begitu suram bagi sita. Tak bersemangat rasanya berangkat ke kampus hari itu. Kalau bisa ia ingin pergi saja yang jauh, jauh dari pandangan semua orang yang mungkin akan mencemoohnya kelak.


****


"Pagi... koq lesu banget keliatannya non?" sapa seseorang dari belakangnya.

Tak perlu menoleh ia sudah tau bahwa itu suara Fikri, kakak kelasnya di kampus ini. Fikri yang satu angkatan dengan Todi. Sita hanya menjawab sapaan Fikri dengan senyum kecut tanpa ada suara sama sekali.

"Koq diam sih? Lagi sakit gigi yah? Atau sariawan?" tanya Fikri penasaran sapaannya tak dijawab oleh Sita sambil berusaha menjajari langkah Sita.

"Ngga koq, cuma lagi males aja" jawab Sita sekenanya.

"Lagi ribut sama Todi ya? Hayo ngaku deh... ga usah bohong..." goda Fikri lagi. keliatannya dia masih penasaran dengan sikap Sita yang beda dari biasanya.

"Ngga" jawab Sita pendek.

"Aku masuk kelas dulu ya.." tukas Sita sambil berlari meninggalkan Fikri yang terbengong.


****


"Ahh... ketemu juga akhirnya... Gue pikir lo belom datang Tod" sapa Fikri sambil menepuk bahu sahabatnya itu dikantin.

"Emang napa lo cari gue?" jawab Todi sambil menyuapkan ketoprak ke mulutnya.

"Gue tadi ketemu Sita, tapi sikapnya aneh deh. Gue sapa eh dia malah pergi gitu aja. Lo lagi ribut ya sama dia?" tanya Fikri.

"Ngga. Kata siapa gue lagi ribut sama Sita. Lagi ada masalah pribadi aja kali dia" jawab Todi sekenanya.

"Lo ga mau tau Sita kenapa? Ingat lo dah janji sama gue kalo ga akan nyakitin Sita. Ga akan nyia-nyiain Sita. Itu dulu perjanjian kita saat lo yang berhasil dapatin hatinya Sita. Sampe akhirnya gue relain Sita" tukas Fikri.

"Iya gue tau. Gue juga tau karna lo kecewa Sita ga pilih lo akhirnya lo lari ke Rohis kan. Gue juga tau sampe sekarang lo masih cinta berat kan sama Sita" ledek Todi.

"Rese lo. Kalo dah bosen sama Sita, mending lo tinggalin aja deh. Kasian tau dia, dah ga lo peduliin lagi" ujar Fikri dengan nada agak tinggi.

"Ya udah ntar gue tanyain dia kenapa. Oke. Sekarang please jangan ganggu selera makan gue. Gue ga makan tau dari semalem" tukas Todi.


****


"Hai sayang..." sapa Todi pada Sita saat mereka bertemu dihalaman parkir kampus.

Sita menoleh dengan kaget mendengar suara itu. Langsung ditariknya tangan Todi ke tempat yang agak sepi.

"Aku hamil nih Tod. Kamu harus bertanggung jawab. Seperti janji kamu waktu itu. Kamu harus nikahin aku" tukas Sita dengan nada mengancam sambil menengok ke kiri dan kanan. Khawatir ada yang dengar pembicaraan mereka.

"Hah? Hamil? Koq bisa? Bukannya waktu itu kita pake pengaman? Koq bisa hamil?" tanya Todi. Jelas terlihat bahwa dia kaget bukan kepalang dengan pengakuan Sita itu.

"Ya aku juga ga tau. Yang pasti kamu harus nikahan aku secepatnya. Aku ga mau banyak orang yang tau. Kasian orangtuaku yang udah banting tulang biar aku bisa kuliah" ujar Sita dengan suara lirih.

"Ya udah ntar aku pikir-pikir dulu ya. Aku juga kan ga tau apa orangtuaku setuju aku nikah di usia muda begini. Kamu juga kan tau kuliahku belom selesai. Aku belom kerja. Cita-cita aku jadi Insinyur aja belom kesampean" tukas Todi dengan wajah bingung.

"Emangnya kamu pikir kuliahku udah selesai? Kamu lupa ya aku kan adek kelas kamu 2 tingkat. Ayo kita minta izin orangtuamu bareng-bareng, bisa via webcam kan, pasti direstuin deh sama mereka" ajak Sita

"Eh.. eh.. ga usah.. ga usah.. biar aku aja yang bilang sendiri. Nanti baru aku kabarin kamu kalo ortu aku setuju" jawab Todi dengan suara gugup seolah ingin menghindar dari tanggung jawab itu.

"Kamu serius?" tanya Sita belum yakin dengan jawaban Todi.

"Iiyy.. iya.." jawab Todi masih dengan gugup.

"Oke. Aku tunggu kabar secepatnya ya. Sebelum ada orang lain yang tau. Aku pulang dulu yah" ujar Sita sambil meninggalkan Todi yang masih mematung disana.


****


Lama Sita menanti kabar dari Todi, tapi kabar yang dinanti tak kunjung datang. Todi pun seolah menghindari Sita tiap kali mereka berpapasan entah itu dikoridor kampus, dikantin, dihalaman parkir atau ditempat yang lain. Bahkan sudah beberapa hari ini Todi tak pernah kelihatan lagi dikampus. Sementara kandungan Sita telah menginjak bulan kedua. Mual-mual layaknya wanita hamil pun masih setia menemani Sita dipagi hari. Hingga sempat membuat sang ibu curiga. Tapi Sita hanya menjawab bahwa ia masuk angin karna terlalu sering begadang mengerjakan tugas kampus.

Bosan menanti akhirnya Sita menemui Fikri untuk menanyakan kabar Todi. Sita pun melangkahkan kakinya menuju sekretariat Rohis, tempat Fikri biasa nongkrong bila tak ada kuliah.

"Fik... kamu tau ga Todi kemana ya akhir-akhir ini, koq ga pernah kelihatan lagi dikampus" tanya Sita dengan wajah lesu.

"Ga tau tuh dah hampir seminggu dia ga nongol dikampus. Kenapa emangnya Sit?" yang ditanya malah balik bertanya.

"Hmm... aku ada perlu nih sama Todi" jawab Sita

"Kenapa ga kerumahnya aja Sit, kalo emang penting" tukas Fikri

"Kamu yakin dia ada dirumah?" tanya Sita

"Ya belom tentu sih. Emang ada apa sih, kalo aku boleh tau" tanya Fikri kembali

"Ehmmm..." Sita terlihat ragu

"Aku hamil Fik..." seru Sita dengan suara yang hampir tak terdengar

"Masya Allah... sudah sebegitu jauhnya hubungan kalian. Terus Todi dah tau? Apa tanggapan dia? Dia mau bertanggung jawab?" pertanyaan Fikri kembali datang bertubi-tubi.

"Todi udah tau, tapi dia masih belom mau nikahin aku. Aku khawatir orangtuaku tau. Aku ga tega liat kekecewaan diwajah mereka" jawab Sita dengan wajah lesu tertunduk.

"Oke deh. Kamu tenang aja ya. Aku akan berusaha bantu. Todi harus mempertanggung jawabkan perbuatannya" tukas Fikri dengan lengan terkepal.


****


"Lo harus bertanggung jawab Tod. Lo ga bisa lari begitu aja. Sita sekarang mengandung anak lo. Jadi itu ya yang bikin lo menghindar terus dari Sita" serang Fikri setibanya dirumah Todi. Beruntung orangtua Todi sedang berada di Luar Negeri, maklum Todi dari keluarga yang berada, jadi tidak ada yang mendengar perkataan Fikri yang keras itu.

"Lo kan tau Fik kuliah gue belom selesai. Ortu gue pasti ga bakal ngijinin gue nikah sekarang ini, ortu gue pengen gue jadi Insinyur. Gue sendiri kan ga punya kerjaan, mana bisa gue kasih nafkah ke Sita nantinya" jawab Todi dengan lemah.

"Jadi lo nolak untuk nikahin Sita? Pengecut lo Tod. Ga nyangka gue kalo temen gue ini ternyata pengecut yang ga berani bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Kalo ga mau bertanggung jawab kenapa lo masih berbuat itu juga? Hah? Lo ga mikirin nasib Sita ke depannya? Nasib anak lo?" bentak Fikri sambil menarik leher baju Todi. Ga percaya sahabatnya itu tega terhadap Sita, gadis yang dicintainya.

Todi hanya diam seribu bahasa. Diamnya Todi menambah gemas Fikri.

"Lo kan punya adek perempuan Tod, apa lo mau adek lo diperlakukan seperti itu sama orang? Coba lo bayangin seandainya adek lo yang mengalami hal itu, bagaimana perasaan lo? Gue yakin lo ga bakal diam aja. Iya kan?" ujar Fikri masih dengan nada tinggi.

Melihat Todi masih bertahan dengan diamnya, akhirnya Fikri menyerah. Dengan tergesa Fikri melangkahkan kaki ke arah pintu. Belum sempat mencapai pintu keluar, ditolehkan kembali kepalanya ke arah Todi.

"Coba lo bayangin seandainya adek lo yang mengalami itu. Apa yang akan lo lakukan. Seperti itu juga yang akan dilakukan keluarga Sita nantinya. Ingat pesan gue ini Tod" tukas Fikri. Dan ia kembali meneruskan langkahnya keluar dari rumah Todi.

Sepeninggal Fikri, Todi memikirkan kata-kata Fikri. Mencoba membayangkan jika hal itu benar-benar menimpa adik perempuan satu-satunya. Dan entah mengapa dadanya terasa panas. Dia merasa bahwa jika hal itu terjadi pada adiknya, maka tugasnya lah untuk membawa pria yang telah menghamili adiknya ke hadapan orangtuanya. Meminta pertanggung jawaban pria itu.

Setelah itu dia seperti disadarkan, bahwa dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya pada Sita. Dia tak ingin Allah menimpakan kejadian yang serupa pada adiknya bila ia mengelak dari tanggung jawabnya. Akhirnya diputuskanlah untuk menuju rumah Sita saat itu juga.

Kencang dilarikannya motor gedenya di jalan raya. Dia hanya ingin tiba secepatnya dirumah Sita. Bertemu dengan orangtuanya dan mengakui semua perbuatannya. Bila perlu dia akan melamar Sita saat itu juga pada orangtuanya.

Dibalik semua rencana manusia, Tuhan lah yang Maha Menentukan. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, muncul sebuah truk yang melaju kencang ke arahnya. Sopir truk panik dan menginjak rem kuat-kuat, namun trus tersebut tetap melaju kencang. Ternyata remnya blong.

Todi tak dapat menghindar dari kecelakaan itu. Tubuhnya terpelanting 5 meter ke depan. Kepala yang tak sempat dilindungi helm itu membentur aspal dengan keras. Dan mengucurkan banyak darah. Todi pun tak sadarkan diri.


****


Tergopoh-gopoh Sita menuju Rumah Sakit setelah mendapat telpon dari adiknya Todi bahwa kakaknya sedang kritis di ruang ICU. Saking terburu-burunya, hampir saja ia menabrak Fikri.

"Gimana kondisi Todi, Fik?" tanya Sita dengan wajah cemas.

"Masih ditangani dokter didalam Sit" jawab Fikri dengan lemah.

"Apa kondisinya parah?" tanya Sita kembali.

"Kata dokter dia kehilangan banyak darah. Aku mau mencari donor darah ke PMI. Kondisi Todi memang sangat kritis. Orangtuanya baru akan tiba besok pagi dari Los Angeles" jawab Fikri sambil menatap wajah Sita.

"Ya Tuhan... cobaan apalagi ini..." desis Sita pelan.


****


Waktu seakan berlalu dengan lambat. Menit demi menit terasa menyiksa. Dokter tak kunjung keluar dari ruang ICU. Beruntung Fikri mendapat donor 3 kantung darah.

Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu... Namun belum ada tanda-tanda dokter akan segera keluar menemui mereka. Waktu kini sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kegelisahan dan kecemasan masih menggantung dilangit-langit.

Lima belas menit kemudian akhirnya dokter keluar juga dengan peluh membanjir diwajahnya. Tergesa mereka mendekati sang dokter dan menanyakan kondisi Todi.

"Bagaimana keadaan Todi dok?" tanya Fikri dengan wajah cemas.

"Apa keluarganya ada?" sang dokter malah bertanya kembali.

"Orangtuanya masih diperjalanan dari Los Angeles. Kemungkinan akan tiba besok pagi" jawab Fikri.

"Pasien sudah kehilangan banyak darah. Kepalanya pun mengalami benturan yang keras. Kondisinya benar-benar sulit diprediksi. Tak tahu apa pasien mampu bertahan hingga orangtuanya tiba disini. Tapi kami akan tetap mengusahakan yang terbaik. Kita hanya bisa meminta pertolongan dari Yang Maha Kuasa" tukas sang dokter dan kemudian berlalu.

Tak lama perawat keluar memberitahu bahwa Todi sudah siuman dan ingin bertemu dengan mereka, Sita dan Fikri.

Setelah mengenakan seragam khusus untuk ruang ICU, Sita dan Fikri pun menemui Todi yang terbaring lemah diranjang. Peralatan medis hampir menempel di semua bagian tubuhnya. Mencoba membantu Todi bertahan hidup.

Dengan suara pelan dan dipaksakan Todi mencoba membuka mulutnya.

"Maafkan aku... Sita... Aku... tak bermaksud... menyakitimu... Aku pun... tak bermaksud... lari dari tanggung... jawab... saat itu aku... sedang menuju... ke... rumahmu... untuk melamarmu... pada... orangtua... mu... tap... tapi... truk... itu... tiba-tiba muncul... dan aku tak... sempat... menghindar..." terbata-bata Todi mengeluarkan kata-kata dari kerongkongannya.

Sita hanya dapat menangis mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Todi.

"Sudahlah Tod, jangan mikir apa-apa dulu. Pikirkan aja kesehatan lo. Lo harus sembuh. Agar lo dapat membahagiakan Sita" ujar Fikri.

"Tapi... gue... merasa hidup... gue ga... lama... lagi... Fik... Karna itu... gue... mau... minta tolong... sama... lo... Fik..." kata Todi kemudian.

"Mo minta tolong apa Tod?" tanya Fikri.

"Gue... minta tolong... lo jagain... Sita... Lo... harus... bahagiain Sita... Gue... percaya lo... bisa... jadi... suami yang... baik untuk... Sita..." tukas Todi.

"Maksudnya lo minta gue nikahin Sita?" tanya Fikri kaget.

"Iyy... Iyya... Lo mau... kan Fik..?' pinta Todi.

Sita dan Fikri bertukar pandangan mendengar permintaan Todi. Tapi tak ada yang mengucapkan sepatah kata pun.

"Please... Fik... ini... permintaan... terakhir... gue... anggap aja... ini wasiat... gue... karna gue... ga... mau... Sita menderita... dan bayi itu... harus punya... ayah... Lo harus... janji sama gue... kalo lo... mau... memenu...hi... permintaan... gue... ini..." pinta Todi dengan wajah yang sangat memelas.

"Sita... kamu... juga... mau... kan... memenuhi... permintaanku ini... untuk... me... menikah... dengan Fik... Fikri... Dia... sudah lama... mencintaimu Sit... jauh... lebih... dulu... dari... ak... aku..." pinta Todi pada Sita juga.

Sita dan Fikri tak dapat menjawab. Hanya pikiran mereka yang dipenuhi banyak hal.

"Aaahhhh..." erang Todi kesakitan.

Dengan panik Fikri memanggil perawat.

"Denyut nadinya semakin lemah. Nafasnya pun sesak" terang perawat sambil berlari menuju ruangan dokter.

"Todi... kamu harus bertahan... kamu harus sembuh... Bagaimana dengan aku... Bagaimana dengan bayi kita..." ujar Sita panik dengan airmata yang semakin deras.

"Karna... itu... aku... min... minta... kalian... ber... berjanji... akan me... me... memenuhi... permintaanku..." ulang Todi sekali lagi.

"Oke. Aku janji Tod. Aku akan nikahi Sita..." ujar Fikri akhirnya.

"Terima kasih... lo... emang... sahabat... gue... yang... terbaik... gue... ya.. yakin... lo... akan... jadi suami... yang baik... untuk Si... Sita..." jawab Todi dengan senyum dibibir.

Tiba-tiba Todi tak bergerak lagi. Denyut nadinya di monitor pun berubah menjadi garis lurus.

"Todii...." teriak Sita.

"Dokter... Dokter..." Fikri berlari menghambur keluar ruangan.

Bagaimana kisah selanjutnya?? Maukah orangtua Sita menerima lamaran Fikri? Bagaimana pula reaksi orangtua Fikri? Akankah Sita dan Fikri menikah demi memenuhi janji mereka pada Todi? Baca kisah selanjutnya 'Aku ingin menjadi pendampingmu (part 2)' yang akan dilanjutkan oleh mba Henny Yaricaprestya di blognya.

Artikel ini diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com



Nb. Cerita ini dipersembahkan oleh "Cerita Bunda" didedikasikan untuk para Orang Tua, Pemuka Agama, Pemimpin Bangsa, Pendidik, Muda Mudi, para Blogger, dan seluruh masyarakat pada umumnya: Jagalah anak, umat, rakyat, siswa siswi, diri kita sendiri serta masyarakat; Jauhilah pergaulan bebas karena akan meruntuhkan masa depan kita dan masa depan bangsa ini; Dukung SEO positif.

Selasa, 25 Januari 2011

Cerbung : Dasrun (lanjutkan ya...)

Waduh... pagi2 baru nyampe kantor, dapat pesan singkat yang isinya dapat kejutan dari mba Erry Andriyati (Bibi Titi Teliti). Asli beneran terkejut, lha wong dapat tendangan maut, hahaha. Tapi tendangannya itu ga bikin benjol, tapi bikin aku jadi merenung panjaannngggg dan lamaaaaaa sekali. Fiuhhh....

Ya sudahlah diterima saja tendangan mautnya mba Erry yang berupa Cerbung ini *halah kirain tendangan apaan*.

Ohya cerbung ini aslinya dari mba Iyha, jadi bagi yang ingin membaca cerita awalnya, buka disini yah. Dan versi keduanya disini.

Berikut lanjutan cerita menurut versi aku ya... :)

====================================================================================

Jakarta, 25 Januari 2011

Pagi itu saat Madi masih dibuai mimpi, tiba-tiba sebuah tangan kasar membuyarkan mimpinya.

"Bang... Bang Madi bangun bang, dah siang koq masih tidur aja. Ga kedengeran apa dari semalem si Otong nangis aja?" suara Titin; istrinya menambah lebar mata Madi terbuka.

Dilihatnya Otong; anak ketiga mereka yang baru berusia 9 bulan, menangis dalam gendongan sang ibu.

"Kenapa emangnya si Otong?" tanya Madi sambil mengucek-ngucek mata

"Masya Allah bang, berarti Otong nangis dari semalem beneran ga kedengeran ya? Gue aja belum tidur nih dari semalam. Otong dari semalem badannya panas banget, dah dikompres tapi belom turun-turun juga. Mana si Yati keberisikan nangisnya si Otong lagi, jadinya ikut-ikutan ga tidur tuh dia" jawab Titin dengan sedikit emosi.

Berpindah pandangan Madi kepada Yati; anak kedua mereka yang berusia 3 tahun sedang asyik bermain boneka kumalnya sambil duduk dilantai tanah rumah mereka. Tiba-tiba bocah 3 tahun itu bangkit dan menghampiri ibunya.

"Mak.. Yati lapar, katanya Yati boleh makan kalo Bapak udah bangun. Tuh Bapak dah bangun" rengek bocah kecil itu kepada ibunya.

"Tuh Bang, anaknya dah kelaperan" tukas istrinya kepada Madi sambil menidurkan Otong yang kelelahan menangis hingga tertidur dengan sendirinya.

"Yati lapar ya?" tanya Madi kepada anaknya.

"Ga usah ditanya lagi Bang, kan udah denger sendiri kalo anaknya kelaperan" teriak Titin dengan gemas mendengar pertanyaan suaminya.

"Ya udah buruan gih pergi cari duit yang banyak. Soalnya kemarin Mpok Sanah udah ngancam kalo ga lunasin kontrakan yang udah 4 bulan belom dibayar, kita bakalan diusir dari sini. Terus juga si Oman tadi pagi ga mau berangkat sekolah katanya malu diledekin temen-temen sekelasnya gara-gara belom bayar uang kesenian yang cuma sepuluh ribu perak" terang istrinya.

"Tapi Abang musti cari duit sebanyak itu dimana tin, kan lu tau sendiri gerobak mie gue kemarin ketangkep sama Satpol PP pas ada razia kaki lima 2 hari yang lalu" jawab Madi dengan wajah bingung.

"Ya itu sih urusan Abang, mo gimana kek caranya, bukan urusan gue. Lagian siapa suruh jualan di Jalan Panglima Polim itu, udah tau ga boleh jualan disitu, jadinya ya begitu. Pokoknya kalo Abang pulang ga bawa duit, mending ga usah pulang aja sekalian" jawab Titin dengan emosi yang tak bisa tertahan juga akhirnya.

Keluarlah Madi dari rumah dengan wajah tertunduk lesu. Teringat nasib istri dan anak-anak mereka selanjutnya jika dia tidak bisa mendapatkan uang. Akankah ia dan keluarganya tinggal dikolong jembatan, sedangkan saat ini saja kondisi rumah kontrakan mereka jauh dari kata 'layak'. Atap yang bocor jika hujan datang, lantai tanah yang kadang ada binatang keluar dari dalam tanah tersebut.

Teringat pula gerobak mie nya yang terkena razia 2 hari lalu. Gerobak tempat dia dan keluarganya menggantungkan hidup. Gerobak yang tiap hari ia dorong menyusuri jalanan ibukota. Gerobak yang kini berada di kantor polisi.

Ahh... gue harus cari duit kemana lagi coba. Dari 2 hari kemaren aja ga ada satupun tempat yang mau nerima ijasah SMP gue. Tak terasa langkah kakinya membawanya tiba di sebuah halte di depan komplek perkantoran yang bonafid.

Lama Madi duduk disana sambil merenung. Kemudian berdatanganlah orang-orang yang baru keluar dari komplek perkantoran itu. Menanti angkutan kota / metro mini dengan wajah sumringah. Ternyata mereka pulang cepat karna hari itu setelah menerima gaji mereka selama sebulan bekerja.

Satu persatu orang-orang naik ke angkutan yang membawa mereka kerumahnya tanpa ada yang memperhatikan Madi. Dan lama setelah orang-orang itu pergi semua, muncullah seorang pria ikut menunggu metromini dihalte tersebut. Wajah lelahnya menyiratkan kebahagiaan. Tangannya tak henti-hentinya mengelus saku belakang seragam kerjanya, yang kelihatan seperti seragam Cleaning Service karna kotor dan basah dibeberapa tempat.

"Rama, tunggu ayah ya, sebentar lagi ayah tiba dirumah, nanti kita ke Pasar Malam seperti keinginanmu" gumam laki-laki itu pelan tapi sempat terdengar oleh Madi.

Kalo gue ambil duit dikantong belakang laki-laki itu pasti semua keperluan gue bisa gue penuhi. Tiba-tiba muncul ide gila dalam benak Madi. Akal sehatnya sudah tak bisa membantu lagi. Dan ketika laki-laki itu naik ke sebuah metromini setelah memberhentikannya, Madi pun mengikuti.

****

Didalam metromini yang penuh sesak, Madi dapat melihat laki-laki itu yang berdiri tak jauh dari dirinya. Madi pun beranjak mendekati tempat laki-laki itu berdiri walaupun dengan susah payah.

Setalah berdiri persis dibelakang laki-laki itu, Madi pun menolehkan wajahnya ke kanan dan kiri. Ternyata hampir semua penumpang sibuk dengan dirinya sendiri, sibuk menyamankan posisi berdirinya didalam metromini itu.

Dan tak lama... tangan Madi pun merogoh kantong belakang laki-laki itu dengan sangat perlahan. Perlahan sekali... agar tak mengundang curiga siapapun didekatnya, termasuk laki-laki itu.

Tak lama merogoh akhirnya tangannya menyentuh sebuah benda. Pelan-pelan ditariknya benda itu keluar dari kantong. Ternyata itu sebuah amplop berwarna putih. Segera dimasukkan ke dalam kantong celananya sendiri dan beranjak mendekati pintu metromini.

Ketika metromini berhenti dan sang kernet sibuk dengan penumpang yang akan naik dan turun. Secepat kilat Madi turun dan membaur dengan penumpang yang turun, berharap tak ada yang memperhatikan.

****

Berlari Madi sekencang-kencangnya dari tempat itu ketika sang metromini telah beranjak pergi. Hingga tibalah ia di sebuah Musholla kecil. Tampak Marboth Musholla sedang membersihkan lantai Musholla. Segera Madi menuju ke arah yang ditunjukkan sebuah papan kecil bertuliskan 'toilet'. Sempat dilihatnya beberapa anak kecil di dalam Musholla sedang mengobrol sambil membereskan alat tulisnya, rupanya mereka baru saja selesai mengaji.

Di dalam toilet segera dibukanya amplop putih tadi. Ada banyak lembaran berwarna biru. Segera dihitungnya. Sembilan ratus lima puluh ribu rupiah. Cukuplah untuk melunasi kontrakan rumahnya yang sudah 4 bulan tidak dibayar, padahal biaya perbulannya hanya Seratus dua puluh lima ribu rupiah. Cukuplah untuk membawa Otong ke puskesmas. Cukuplah untuk melunasi iuran kesenian Oman. Cukuplah untuk membeli makanan yang enak selama beberapa hari untuk anak istrinya.

Segera Madi mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Ashar, bersyukur pada Allah karna telah memberinya rizki hari ini. Dan beberapa anak kecil tadi masih ada saat ia memasuki ruangan Musholla dan mengambil sajadah, masih sempat terdengar percakapan anak-anak itu.

"Nanti malam saya mau ke Pasar Malam lho, Ayah sudah janji!" ujar seorang anak.

"Ah, paling nggak jadi lagi, dari minggu kemarin juga ngomongnya begitu terus, bohonglah!" bantah seorang anak sambil memainkan pecinya.

"Si Dodo mah suka sirik aja deh, beneran sekarang mah. Hari ini tanggal 25 kan? Ayah saya pasti sudah gajian, Ayah sudah janji kok, kalau gajian, mau diajak ke Pasar Malam, mau beli pesawat pesawatan!" anak yang pertama kali bicara tak mau kalah.

"Wah, beneran nih Ram? Rama mau dibeliin pesawat-pesawatan? Nanti saya minjem yah!" ujar seorang anak yang dari tadi diam.

"Tenang aja Daus, semua boleh pinjem kok, tapi awas lho, jangan dirusakin yah!" jawab anak yang dipanggil Rama.

Tercekat Madi mendengar nama Rama. Karna nama itu mirip dengan nama yang disebut laki-laki tadi sebelum masuk ke dalam metromini. Apa emang ini anak yang dimaksud atau cuma kebetulan namanya sama aja?

Kembali diletakkan sajadah yang sempat diambilnya ketika melihat anak-anak itu keluar dari Musholla. Segera diikutinya kemana anak-anak itu pergi.

****

Tak jauh dari tempat Madi turun, laki-laki yang dicopet oleh Madi juga segera turun. Tepat ketika sang kernet berteriak,

"Gang Mancur..Gang Mancur.."

==================================================================================

Akhirnya cerita diatas selesai juga menurut versi aku, hehehe. Tapi nyambung ga sih ini sama 2 versi cerita sebelumnya. Semoga nyambung yah...

Kelanjutan cerita ini aku serahkan kepada Elsa tantenya Dija. Semoga mba Elsa yang cantik berkenan menerima lemparan cerbung ini ya.... :)

Senin, 29 November 2010

Tentang Sedekah

Di sebuah kota besar bernama Jakarta, ada seorang pemuda sebut saja Rian (bukan nama sebenarnya) yang sedang duduk di pinggir jalan, tepatnya di trotoar tempat orang-orang biasa berjalan kaki. Kelihatan dari wajah kusutnya sepertinya Rian sedang gundah gulana. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Matanya yang hampa menatap jauh kedepan.

Sudah demikian banyak lamaran yang kukirim, baik lewat pos ataupun email, tapi tetap saja tidak ada yang nyangkut satupun. Sudah banyak pula perusahaan yang aku datangi, tapi tak satupun yang berkenan menerimaku sebagai karyawannya. Dan aku memerlukan uang secepatnya untuk biaya berobat ibuku. Tabunganku pun telah habis untuk keperluan melamar kerja ini. Batin Rian berbicara.

Ya Allah bantulah hamba-Mu ini, hamba memerlukan pekerjaan secepatnya. Pengobatan ibu hamba tidak bisa ditunda lagi. Hanya Kau tempatku bergantung saat ini. Tolonglah hamba Ya Allah. Doa Rian dengan mata berkaca-kaca teringat ibunya yang terbaring tak berdaya dirumah.

Tiba-tiba muncullah seorang pengemis dengan pakaiannya yang kotor dan lusuh didepan Rian sambil menadahkan tangannya.

'Kasihani saya pak, sudah tiga hari ini anak dan istri saya tidak makan pak. Tolong saya pak. Semoga kebaikan bapak dibalas dengan berlipat-lipat ganda oleh Allah swt. Aminn' ujar si pengemis meminta belas kasihan Rian

Terdorong oleh rasa kasihan melihat pengemis tersebut dan terbayang olehnya betapa tidak enaknya kelaparan. Maka diserahkannyalah selembar uang dua puluh ribu rupiah yang pertama kali keluar saat Rian merogoh kantongnya; dan tanpa sadarinya bahwa itu adalah satu-satunya uang yang masih dimilikinya saat itu.

'Ya sudahlah tak ada gunanya aku menahan uang ini ditanganku. Bapak itu dan keluarganya lebih membutuhkan. Semoga Allah membalas semuanya, aminn' ujar Rian dalam hati.

'Terima kasih banyak pak, semoga kebaikan bapak dilipat gandakan oleh Allah, dan bapak diberi kehidupan yang lebih baik dari sekarang, aminn' jawab sang pengemis sambil berlalu dari hadapan Rian dengan wajah berbinar-binar bercahaya.

Setelah pengemis itu pergi, Rian berencana untuk pulang. Dan baru saja hendak memberhentikan angkutan (sambil merogoh-rogoh sakunya mempersiapkan ongkos), Rian terhenyak bahwa ia tak memiliki uang lagi. Ditengah kebingungannya tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring pertanda ada panggilan masuk.

'Selamat siang dengan bapak Rian Kusuma??' sapa diseberang sana

'iya betul pak' jawab Rian dengan gugup

'Saya Andi Widjaja dari PT Maju Bersama (bukan nama sebenarnya), meminta bapak datang besok untuk mulai bekerja di perusahaan kami'

'Maksud bapak, saya diterima di perusahaan bapak?' tanya Rian memastikan dengan jantung yang berdetak makin keras

'Benar pak dan besok bapak sudah bisa mulai bekerja. Tapi gaji yang bisa kami berikan hanya sekian juta'

'Alhamdulillah, makasih pak. Saya siap bekerja besok'

'oke'

Dan percakapan itupun terhenti. Rian masih belum percaya bahwa baru saja ia menerima telp panggilan kerja, bahkan besok sudah bisa bekerja. Dan Rian sangat bersyukur karna gaji yang ditawarkan lebih dari cukup untuk membiayai pengobatan ibunya. Hatinya pun tak henti-henti bersyukur atas karunia Allah.

****

Kisah diatas adalah salah satu dari sekian banyak kisah tentang keajaiban sedekah. Bagaimana Allah membalas tiap kebaikan itu dengan balasan yang berlipat-lipat kali lebih banyak dari yang disedekahkan. Ibaratnya tiap satu rupiah yang disedekahkan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Apalagi kalo jumlah sedekah itu memang banyak jumlahnya?? Bisa dibayangkan betapa banyaknya balasan yang kelak Allah beri.

Satu hal yang saya suka adalah : Bersedekah disaat lapang itu hal yang biasa dan wajar, tapi bersedekah disaat sulit dan sempit; maka itu adalah hal yang luar biasa. Hal itulah yang saat ini sedang diperjuangkan oleh kami sekeluarga; memberi dikala senang terlebih susah.

Terima kasih untuk Rian (bukan nama sebenarnya; teman ayah shishil) yang telah menceritakan kisah ini pada kami. Sungguh kisah ini sangat menginspirasi kami sekeluarga untuk lebih gemar bersedekah. Bukan untuk mendapat balasan yang lebih banyak, tapi karna percaya janji Allah itu pasti. Bahwa sedekah dapat memperbaiki kehidupan seseorang. Dari yang awalnya hina menjadi mulia, yang awalnya miskin menjadi kaya, yang awalnya enggan berbagi menjadi orang yang gemar berbagi kepada sesama. Terlepas dari benar tidaknya keluarga pengemis itu tidak makan 3 hari, karna hanya Allah yang tahu pasti tentang itu.

Dan kisah ini saya tulis untuk lebih mengingatkan saya pribadi dan keluarga. Alhamdulillah jika ternyata menginspirasi sahabat-sahabat yang lain.

Senin, 24 Mei 2010

Butterfly Story..


Suatu hari, muncul celah kecil pada sebuah kepompong; seorang pria duduk dan memperhatikan calon kupu2 tersebut berjuang keras selama berjam2 untuk mendorong tubuhnya keluar melalui lobang kecil tersebut.

Kemudian, tampaknya usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Terlihat seolah-olah usaha tersebut sudah mencapai satu titik dimana tidak bisa pergi lebih jauh lagi.

Maka, pria itu memutuskan untuk membantu kupu2 itu. Dia mengambil sebuah gunting dan membuka kepompong itu. Kemudian kupu2 itu keluar dengan sangat mudahnya. Tapi apa yang terjadi? Kupu2 itu memiliki tubuh yang tidak sempurna. Tubuhnya kecil dan sayapnya tidak berkembang.

Pria itu tetap memperhatikan dan berharap, tidak lama lagi, saya tersebut akan terbuka, membesar dan berkembang menjadi kuat untuk dapat menopang badan kupu2 itu sendiri.

Semua yang diharapkan pria itu tetap tidak terjadi!!

Kenyataannya, kupu2 tersebut malah menghabiskan seluruh hidupnya merayap dengan tubuhnya yang lemah dan sayap yang terlipat. Kupu2 tersebut tidak akan pernah bisa terbang.

Apa yang pria itu lakukan, dengan segala kebaikan dan niat baiknya, dia tidak pernah mengerti bahwa perjuangan untuk mengeluarkan badan kupu2 dari kepompong dengan cara mengeluarkan seluruh cairan dari badannya adalah suatu proses yang dibutuhkan, sehingga sayapnya dapat berkembang dan siap untuk terbang begitu keluar dari kepompong tersebut, sesuai yang telah ditentukan oleh Allah.

Seringkali, Perjuangan adalah sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini.

Jika Allah memperbolehkan kita melewati hidup ini tanpa cobaan, hal ini akan membuat kita lemah. Kita tidak akan sekuat yang kita harapkan dan tidak akan pernah terbang seperti kupu2 tersebut.

Kita meminta KEKUATAN.. dan Allah memberikan kita KESULITAN untuk kita hadapi dan membuat kita menjadi KUAT.

Kita meminta KEMAMPUAN dan KEBIJAKSANAAN.. dan Allah memberikan kita MASALAH2 yang harus kita pecahkan.

Kita meminta KEMAKMURAN.. dan Allah memberikan kita OTAK dan KEKUATAN untuk bekerja.

Kita meminta KEBERANIAN.. dan Allah memberi kita rintangan untuk kita hadapi.

Kita meminta CINTA.. dan Allah memberikan kita orang2 yang kesulitan untuk kita bantu.

Kita meminta PERTOLONGAN.. dan Allah memberi kita KESEMPATAN.

Kita tidak menerima apa yang kita INGINKAN.. Tapi kita menerima apa yang kita BUTUHKAN.

Selasa, 11 Mei 2010

Ayah.. Maafkan Dita..

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya. 

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. 

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah. 

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar.. Dia juga beristighfar. . Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi. 

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …. kan !” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. 

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. 

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air.. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak. 

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ditadalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. 

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhubadan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikanterkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi. 

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam lina ngan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris. 

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?…. Bagaimana Dita mau bermain nanti?…. Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf… 

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..


*******


nb : artikel ini tidak mengarah ke siapapun, adapun kesamaan nama itu adalah suatu kebetulan belaka untuk melengkapi artikel ini.. ^_^


Join d'BC Network

Jumat, 07 Mei 2010

Wanita Jepang di Depan Pintu Masjid

Bersungut-sungut seorang wanita muda Jepang keluar dari pintu bangunan masjid. Cuaca Tokyo yang dingin tak urung membuat wajahnya tampak memerah. Sesekali tangannya membetulkan penutup kepala berupa scraf yang terlihat bergeser, dengan mimik wajah tampak kesal. 

Saya yang berdiri beberapa jarak darinya, secara tidak sengaja menangkap umpatan dari mulut wanita tersebut. "Mou Islam shinjirarenai! Tasukeai kuseni, uso jan! (Islam tidak bisa dipercaya, selalu bicaranya saling menolong, ternyata bohong!)." Sekilas ia memandang ke arah saya lalu kembali berkata, "Islam tak bisa dipercaya!" 

Kaget bercampur tak mengerti ujung masalahnya, sebisa mungkin saya berusaha menyapa wanita tersebut. Mencoba mengulik apa masalah yang sedang dihadapi. Wanita tersebut diam mematung sejenak. Berdiri di hadapan saya sambil memandang tajam. 

Kikuk dengan tatapannya, saya berusaha sedapat mungkin mencairkan suasana dengan berkenalan, menyebutkan nama dan negara asal. "Jika ada yang bisa dibantu, Insya Allah saya akan ikut menolong, " kalimat tersebut akhirnya keluar dari mulut, dalam kikuk. 

Entah kenapa, wanita Jepang dihadapan tiba-tiba menangis "Saya berIslam untuk bahagia, bukan menderita. Saya datang ke masjid ini untuk mencari seseorang...." Ucapnya lirih disela isakan tangis.

Memilih Islam adalah pilihan wanita Jepang tersebut sesaat sebelum menikah dengan seorang pria beda negara, yang beragama Islam. Ia begitu percaya bahwa pria muslim tersebut akan membawanya kearah kebahagiaan dunia akhirat. Tak disangka, pernikahan justru membuatnya jatuh ke dalam lubang yang digalinya sendiri. 

Suami yang mengaku Islam, ternyata tidak pernah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Jangankan sholat ataupun puasa Ramadhan, memberi nafkah penghidupan bagi isteripun tidak pernah. Hingga ia harus turut bekerja untuk menopang agar dapur 'ngebul' atau sekedar untuk belanja keperluan sendiri. Sampai suatu ketika, ia tersontak kaget mendapatkan seluruh tabungan terkuras habis dengan suami kabur membawa anak semata wayangnya yang masih kecil.

Dalam keadaan panik, ia menghubungi sanak keluarga suami untuk mencari informasi. "Tak mengapa semua tabungan dibawa pergi, asal anak dikembalikan, " ucapnya. Sayang, bukan berita baik yang didapat, sanak keluarga suami malah mencacinya sebagai isteri yang tak baik, ibu yang tak bertanggung jawab tanpa mau mendengarkan penjelasan darinya. "Islam? Apakah itu wajah Islam yang sebenarnya? Suka mencaci, senang menghina, bertengkar, pantas saja banyak yang bilang Islam Teroris!!" Ucapnya memberondong saya dengan pertanyaan dengan penyataan kesal. Diam, saya berusaha meresapi ucapannya.

"Bukan, itu bukan wajah Islam. Islam dan orang Islam tidak bisa disamakan. Islam itu ajaran indah, tapi orang Islam tidak semuanya bisa dikatakan indah, tergantung akhlaknya." kalimat tersebut terucap dari mulut saya, setelah sejenak berpikir. Wanita muda tadi kembali menatap tajam. "Anda aneh! Seharusnya orang yang berikrar telah Islam ya harus indah seperti ajarannya. Jadi Islam dan orang Islam itu harus sama. Ibarat cermin, pantulannya sama." Kembali wanita itu membantah.

Entah kenapa, hari itu, akhirnya saya menemukan teman diskusi menarik tentang Islam. Wanita yang baru berikrar memeluk Islam 3 tahun lalu, banyak memberikan ‘input’ bagi saya bagaimana orang Islam itu seharusnya. Di akhir obrolan, wanita Jepang tersebut berkata, "Saya mungkin kecewaan terhadap orang Islam, tapi tetap jatuh cinta pada ajaran Islam. Semoga kita bisa menjadi orang Islam yang menjadikan Islam lebih indah." Kami berpisah setelah saling bertukar nomor telpon, disertai janji akan saling berhubungan.

Islam dan orang Islam, beberapa hari ini kata-kata tersebut sering sekali mengelebat dipikiran saya. Terutama yang berhubungan dengan ucapan teman wanita Jepang di depan pintu masjid. Bahwa Orang Islam harus identik dengan ajarannya Islam. Islam adalah agama indah, berarti orang-orang yang di dalamnya harus memiliki hati yang indah. 

Bagi saya, yang lahir dan di besarkan secara Islam, kalimat tersebut ibarat sindiran berupa panah yang menusuk hati. Sudahkan saya menjadi muslimah yang indah seperti ajaran Islam yang indah? Sudahkan saya seperti cermin yang memantulkan bayangan indah wujud asli? Sudahkan orang-orang disekeliling merasa aman dari lidah ataupun perbuatan saya? 

Ternyata, masih terlalu banyak hal-hal yang tidak indah ada dalam diri saya. Semakin direnungkan, semakin saya menemukan ketidaksempurnaan akhlak diri yang harus diperbaiki.

Diskusi tak terduga tentang Islam, satu siang di depan Masjid Tokyo membuka pandangan saya. Bahwa merupakan tugas orang Islam untuk memantulkan cahaya Islam dengan indah. Ajaran Islam adalah ruh, sedangkan penampakan luar 'fisik' nya adalah orang Islam itu sendiri. Orang Islam, harus dapat sejalan dengan keindahana ajaran Islam. Keindahan yang tidak hanya dengan mudah keluar dari mulut, tapi ia juga perlu suatu bukti dari tingkah laku.

Untuk wanita Jepang di depan pintu masjid, terima kasih karena telah mengajak berdiskusi secara tidak disengaja. Obrolan satu siang di hari tersebut, semakin menyadarkan diri bahwa Islam itu indah dan akan semakin indah jika didukung oleh akhlak indah si pemilik ruhnya. Alangkah bahagianya jika suatu saat image Islam adalah agama indah berdengung tidak hanya di seantero Jepang, tapi di seluruh dunia.

******

Sepenggal catatan Aishliz et Japan

Era Muslim

Kamis, 21 Januari 2010

Kisah Tukang Cukur

Seorang konsumen datang ketempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang TUHAN.

Si tukang cukur bilang, 'Saya tidak percaya kalau ALLAH itu ada.'

'Kenapa kamu berkata begitu?' tanya si konsumen

'Begini, coba kamu perhatikan di depan sana, dijalanan.. untuk menyadari bahwa ALLAH itu tidak ada. Katakan padaku, jika ALLAH itu ada; adakah yang sakit? Adakah anak-anak terlantar? Adakah yang susah hidupnya?'

'Jika ALLAH itu ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan.'

'Saya tidak dapat membayangkan ALLAH Yang Maha Penyayang akan membiarkan semua ini terjadi.'

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon apa yang dikatakan si tukang cukur tadi, karena dia tidak ingin terlibat adu debat.

Si tukang cukur segera menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang dijalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (jawa : mlungker-mlungker-red), kotor dan brewok tidak pernah dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur tadi dan berkata, 'Kamu tahu, sebenarnya didunia ini TIDAK ADA TUKANG CUKUR..!'

Si tukang cukur tidak terima, dan berkata, 'Kamu kok bisa bilang begitu? Saya tukang cukur dan saya ada disini. Dan barusan saya mencukurmu!'

'Tidak!' elak si konsumen. 'Tukang cukur itu TIDAK ADA! Sebab jika tukang cukur itu ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang diluar sana.' si konsumen menambahkan.

'Ah tidak, tapi tukang cukur itu tetap ada!' sanggah si tukang cukur. 'Apa yang kamu lihat itu adalah SALAH MEREKA SENDIRI, mengapa mereka tidak datang kepada saya untuk mencukur dan merapikan rambutnya?' ucap si tukang cukur membela diri.

'COCOK, SAYA SETUJU..!' kata si konsumen. 'Itulah point utamanya! Sama dengan ALLAH.'

'Maksud kamu bagaimana?' tanya si tukang cukur tidak mengerti.

'Sebenarnya ALLAH ITU ADA ! Tapi apa yang terjadi sekarang ini? Mengapa orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-Nya, dan tidak mau mencari-Nya..? Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan didunia ini.'

Si tukang cukur terbengong !!! Dalam hati dia berkata : 'Benar juga apa kata dia.. mengapa aku tidak mau datang kepada ALLAH, untuk beribadah dan berdoa, memohon agar dihindarkan dari segala kesusahan dalam hidup ini..?'

Rabu, 13 Januari 2010

100 real per jam

Bocah kecil itu menemui ayahnya yang payah karena bekerja. Sebab dari pagi hingga sore, ia mengontrol berbagai proyek dan kontraknya. Ia tidak punya waktu untuk diam dirumah selain untuk makan dan tidur.

Bocah : 'Ayah, kenapa engkau tidak lagi mau bermain denganku dan bercerita kepadaku? Aku sangat merindukan cerita2mu dan ingin bermain denganmu. Bagaimana pendapatmu bila hari ini engkau bermain sebentar denganku dan bercerita satu kisah kepadaku?'

Ayah : 'Anakku, aku tidak punya waktu untuk bermain dan membuang2 waktu. Karena aku punya pekerjaan dan waktuku sangat berharga.'

Bocah : 'Berilah aku satu jam saja dari waktumu, karena aku sangat merindukanmu, wahai ayahku.'

Ayah : 'Anakku tercinta, aku bekerja dan berjuang untuk kalian. Dan waktu satu jam yang engkau inginkan agar aku habiskan bersamamu itu, bisa aku pakai untuk mendapatkan penghasilan tidak kurang dari 100 real. Jadi, aku tidak punya waktu untuk sesuatu yang sia2 bersamamu. Ayo pergilah dan bermainlah bersama ibumu.'

Hari demi hari berlalu, dan kesibukan sang ayah semakin bertambah. Suatu hari bocah itu melihat pintu kamar ayahnya terbuka, maka ia masuk menemui ayahnya.

Bocah : 'Ayah berilah aku 5 real.'

Ayah : 'Untuk apa? Setiap hari aku memberimu uang 5 real. Untuk apa uang sebanyak itu? Ayo, pergi dari hadapanku. Aku tidak akan memberimu apa2 sekarang.'

Si anak pun pergi dengan perasaan sedih. Sementara sang ayah duduk sambik berfikir tentang apa yang dilakukannya terhadap anaknya. Dia pun memutuskan untuk pergi ke kamar anaknya untuk menghiburnya dan memberikan 5 real kepadanya. Bocah kecil itu sangat gembira menerima uang 5 real tersebut.

Kemudian bocah itu langsung menuju ranjangnya dan membuka bantalnya. Lalu di mengumpulkan uang yang ada dibawahnya dan mulai merapikannya. Lima ral untuk melengkapi jumlah uangnya.

'Ayah, sekarang ambillah uang 100 real ini dan berilah aku waktu 1 jam dari waktumu.' ujar bocah yang polos itu.



Ibrah : Wahai para ayah, dimanakan engkau saat anakmu membutuhkanmu? Berapa banyak waktu yang engkau berikan untuk anakmu? Dimana rasa kasih sayangmu bagi mereka? Wahai para ayah, ingatlah bahwa anakmu membutuhkan kasih sayangmu, membutuhkan senyummu, membutuhkan kebersamaanmu, membutuhkan perhatianmu, membutuhkan semua kebaikan darimu. Mereka tidak butuh uang, mainan, makanan atau harta lainnya, sedangkan engkau tidak memberikan kasih sayangmu pada mereka. Wahai para ayah, kembalilah...

Kamis, 10 Desember 2009

Belajar dari masa kecil Michael Jackson


Masa Kecil yang Hilang

Niente Senza Gioia (Tiada Hari Tanpa Kegembiraan) demikianlah motto sebuah sekolah usia dini Reggio Emilia, Italia, yang kini metodanya banyak diadopsi ke berbagai benua. Semua bagian di sekolah ini sangat menjaga agar anak merasakan kebahagiaan dan senang bersekolah sejak hari pertama. Pendiri sekolah ini, Loris Malaguzzi, mengatakan "Saya percaya bahwa anak-anak mengharapkan dari orang dewasa kemampuan untuk menciptakan kegembiraan.”

Mengapa masa kecil anak harus bahagia? Kita bisa bercermin dari kehidupan artis Michael Jackson yang kematiannya ditangisi jutaan penggemarnya. Michael Jackson adalah contoh nyata orang yang masa kecilnya tidak bahagia. Semua masalah yang dihadapi di usia dewasanya bermula dari ketidakbahagiaannya di masa kecil. Tak hanya saat berlatih sang ayah menampar dan mencambuknya, namun juga saat akan naik panggung. Barangkali sang ayah menganggap bahwa apa yang ia lakukan semata-mata untuk kesuksesan anak-anaknya. Namun yang terjadi adalah luka batin yang tak tersembuhkan.

Agar tidak pernah lupa menutup jendela kamar sebelum tidur, Joseph Jackson –sang ayah- menggunakan topeng monster, masuk ke kamar saat mereka tertidur lalu berteriak sekencang-kencangnya. Hal inilah yang membuat Michael mengalami trauma dan membuatnya selalu merasa tidak aman dan ketakutan bahkan ketika berada di kamarnya sendiri. Karena itu setelah popular, Michael membayar 40 pengawal untuk melindungi dirinya yang selalu merasa tidak aman.

Kekerasan verbal baik hinaan maupun kata-kata yang mengancam tak kalah menimbulkan luka mental. Sebutan big nose (hidung besar) membuatnya di kemudian hari sering mengubah penampilan melalui operasi plastic hingga berkali-kali.

Sejak usia lima tahun, waktu Michael Jackson habis untuk berlatih dan tampil di berbagai pertunjukkan. Hal ini membuatnya benar-benar kehilangan keindahan masa kecilnya. “Saya suka dengan pertunjukkan, tapi ada saatnya saya hanya ingin bermain.” Demikian pengakuan Jacko sapaan akrab Michael Jackson dalam wawancaranya dengan Oprah Winfrey. “Saya tidak pernah punya masa kecil yang normal.”

Karena itu, saat dewasa, ia mencoba menciptakan apapun yang tak pernah didapatnya di masa kecil. Ia membangun istana di Ranch Neverland, suatu tempat impian yang umumnya ada dalam benak anak-anak. 'Negeri' impian Michael Jackson itu menyediakan kebun binatang, roller coaster, komedi putar, bianglala, kereta api, dll.

Kesuksesan yang dapatkan di dunia musik membuat ia bisa melakukan apa saja baik dengan membangun Neverland maupun untuk gonta-ganti wajah. Namun semua itu tak pernah dapat mengganti kebahagiaan masa kecilnya yang terenggut. Michael tetap merasa kosong dan tidak bahagia. Ia kemudian muncul menjadi sosok yang kepribadiannya sering dianggap aneh, menyimpang, dan menimbulkan kontroversi.

Kebencian akan perlakuan ayahnya yang merampas kebahagiaan masa kecinya tak bisa ditutupi. Dalam surat wasiatnya ia sama sekali tidak mencantumkan nama ayahnya sebagai penerima warisan. Ironisnya, Bubbles, simpanse kesayangannya, justru mendapatkan sebagaian warisannya untuk memastikan sang simpanse hidupnya terjamin.

Kebahagiaan masa kecil…tampaknya sepele, namun sungguh sangat penting. Rasulullah, dikenal sebagai sosok yang sangat mengutamakan kebahagiaan anak-anak. Tindakannya memperlama sujud untuk memberi kesempatan cucu-cucunya bermain di atas punggungnya, adalah contoh kecil bagaimana membuat anak-anak senang, bahkan saat melakukan ibadah.

Melalui kegembiraan anak-anak membangun masa depannya. Sebaliknya tanpa hal itu, seseorang menjadi limbung dan jatuh. Sudahkah kita mengisi hari putra-putri kita dengan kegembiraan?
(Ida S. Widayanti/dimuat di majalah Hidayatullah edisi Agustus 2009)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...