Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2012

Perselisihan pada anak

Pernah liat anak yang hobby menjahili temannya? Atau malah anak kita termasuk yg suka menjahili temannya? Atau korban kejahilan temannya?

Kayaknya hal begini ga akan pernah bisa dihindari ya mom, mama, bunda... Bahkan shishil yg masih Preschool sudah mengalami hal diatas. Bedanya shishil yg menjadi korbannya (maklum shishil skrg ini belum punya temen berantem dirumah, jd blm pernah belajar jahil menjahili teman itu), dan hal itu terjadi disekolah. Pernah jg sampe nangis dan begitu bunda lihat, ternyata ada bekas cakaran dipipinya. Para guru disekolah sih pastinya ga tinggal diam ya, tapi apa iya bunda musti ngajari utk balik mencakar anak tsb juga..?? Keknya sih ga mungkin ya...

Jadi ceritanya tuh ada 1 anak disekolahnya shishil yg hiperaktif bgt, ga bs diem, lari-lari terus, kalo ga nakalin jahilin anak dimeja sini, udh pasti dimeja sana. Padahal anaknya cewek loh, manis lagi, Syifa namanya. Mamanya jg ga pernah ngajarin seperti itu, malah selalu jd orang pertama yg nyuruh Syifa utk minta maaf ke temen yg udah dibikin nangis. Tapi ya namanya manusia, seketat2nya dia ngawasin anaknya biar ga bikin nangis anak lain, tetep aja pasti ada lengahnya jg. Ga terkecuali mamanya Syifa ini. Jadi menurut bunda, bukan cuma tugas mamanya Syifa aja yg hrs menjaga anaknya biar ga nakalin anak lain, tapi tugas ibu2 yg lain jg, minimal jd penengahlah kalo diliat arahnya bakal ke kekerasan (mukul, cakar, jambak, dorong, dsb).

But.. tetep aja selalu ada yg lepas dr pengawasan, alias tetep aja ada yg nangis. Seperti suatu ketika seorang anak kalem bin pendiam bernama Yola yg jadi korbannya. Dimaklumi sih jika ibunya marah besar, dan imbas kemarahannya bukan cuma ke pengasuhnya Yola, tp juga ke para guru dan pastinya ke mamanya Syifa. Sampe ngalah2in ijin 1/2 hari kerja cuma untuk ngelabrak mamanya Syifa, ga puas krn ternyata Syifa ga sekolah krn sakit, akhirnya keesokan paginya nekad nelpon mamanya Syifa (ga tau deh dpt nomor hp dr siapa). Ngomongnya pun kasar, 'bisa ga sih ngurus anak? udah tau anaknya nakal koq ga diawasin, bla bla bla...' kebayang donk mamanya Syifa nangis bombay pagi itu, dan buat papanya Syifa marah (akhirnya antar orangtua jd ribut kan). Papanya Syifa pun blg ke mamanya, 'siapa bilang kamu ga bisa urus anak mah? lawong km itu ngurus anak 24 jam sehari, ngurus rumah jg 24 jam sehari, dibanding dia yg anaknya diurusin pembantu, dianter sekolah pembantu, ditungguin sekolah jg sm pembantu, buat apa punya ibu,,?'

Astaghfirullah.. akhirnya jd pada ribut kan para orangtua itu.. Mamanya Yola msh beruntung, abis marah2 ke mamanya Syifa ga perlu pusing krn ga pernah ke sekolah kl bukan acara yg super duper penting, lha kalo spt bunda yg tiap sekolah musti anter, nungguin smp pulang sekolah gmn?? Apa iya bunda selamanya musti ga tegur-teguran dg mamanya Syifa? Apalagi setau bunda, yang namanya anak-anak itu, biarpun saat ini mereka bertengkar; dijamin 5 menit lagi udah main bareng lagi, ketawa bareng lagi, lari-lari bareng lagi deh. Nah kl anak2 udah pd akur, apa para orangtua jg akan semudah itu akur lagi? Apa malah ga keki mo negur duluan..??

Ahh... ternyata jd orangtua itu emang ga mudah ya, musti mau ngalahin ego sendiri. Bunda percaya tiap ibu pasti ingin melindungi anaknya dan ga rela anaknya disakiti oranglain, tapi jika banyak resiko yg kelak akan muncul, apa iya ego itu tetap harus dipertahankan? Jika ada solusi yg baik sambil tetap berusaha mencegah hal tsb tidak terulang lg, apa itu bukan yg terbaik?

Makanya pas shishil dibuat nangis oleh Syifa, dan Syifa udah minta maaf, bunda cm bisa bilang ke shishil 'cici (panggilan shishil) mau maafin Syifa kan, Syifa kan temennya cici, maafin ya, Syifa kan ga sengaja, ga enak kan nanti jd berkurang temennya, cici kan anak baik, anak baik itu mau maafin temennya'. Dan alhamdulillah shishil mau dengerin bunda, alhasil ga lama udah pada lari-lari bareng lg deh :) malah dg sok tua-nya shishil blg ke Syifa 'syifa ga mukul-mukul lagi ya' hehehe... padahal ga ada yg ajarin dia blg begitu loh :)

Jadi ya begitu deh, ketika anak berselisih dg temannya, tugas orangtualah menjadi wasit/penengah, atau bisa jg menjadi humas yg akan menjelaskan ke orgtua anak yg berselisih dg anak kita ttg perilaku anaknya (tentunya dg bahasa yg santun ya), bukan malah mengajari anak utk menjauhi dan menghindari temannya tsb. Karna dari situlah anak akan belajar banyak. Bagi yg mjd korban, dia akan tau bahwa dipukul (misal) itu sakit, jd dia akan berusaha utk ga melakukan yg sama ke temannya yg lain. Bagi yg melihat, tentunya setelah diberi penjelasan bahwa hal itu bukan perbuatan yg baik dan tdk boleh ditiru, dia akan memahami. Bagi si pelaku jg, jika terus menerus diberi lingkungan yg positif, bukan mustahil dia akan berubah nantinya.

Kasian kan kalo suatu saat anak spt Syifa dijauhi teman-temannya hanya krn dia suka main kasar, bunda ga bs bayangin kl hal itu terjadi pd shishil. Gimana sedihnya dia kl ga ada lagi yg mau main sama dia. Seperti bunda yg ga ingin hal itu terjadi di shishil, bunda yakin ibu yg lain pun menginginkan hal yg sama. Bener ga mom, mama, ibu, bunda..???

Duhh kayaknya nih postingan udah melantur kemana-mana. Maaf ya kalo kepanjangan hehe... Kira-kira para mommy, ibu, mama, bunda yg lain pernah mengalami hal yg sama..?? Bisa tolong sharing / kasih saran jika ada yg berbeda pandangan dg bunda dlm menyikapi hal ini?? Sok, monggo, silakan... :)

Senin, 22 November 2010

Rahasia Parenting Nabi Ibrahim

Remaja itu masih berumur belasan tahun. Namun kepribadiannya telah matang. Dewasa. Jauh melampaui usia biologisnya.

Kedewasaan karakter itu tercermin dari logika keimanannya yang sempurna. Maka, begitu tahu bahwa penyembelihan dirinya adalah perintah Allah, ia menjawab dengan tenang: "Hai ayahku... kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS. Ash-Shaaffaat : 102)

Jika hari ini banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya tidak berbakti pada mereka, Ibrahim bukan hanya mendapati Ismail berbakti. Lebih dari itu Ismail pada usia remaja telah membaktikan dirinya tanpa reserve kepada Dzat yang memerintahkan berbakti kepada orang tua. Meskipun nyawa sebagai taruhannya.

Kita mungkin beralasan, bahwa Ibrahim dan Ismail adalah nabi. Tak bisa disamakan dengan manusia biasa. Memang itu benar adanya. Akan tetapi, bukankah salah satu gelar yang dianugerahkan Allah kepada Ibrahim adalah uswatun hasanah? Maka, dalam dunia parenting pun Ibrahim mencatatkan keteladanan bagi umat manusia sesudahnya. Lalu, apa rahasia parenting nabi Ibrahim?

Menjadi Orang Tua yang Baik

Sebelum dianugerahi Ismail, Ibrahim telah menyiapkan diri menjadi orang tua yang baik. Perjuangan melawan penyembahan berhala di masa muda, hingga keteguhannya berdakwah di masa tua mencerminkan keshalihan yang luar biasa. Keimanan yang sempurna juga tampak dari keberaniannya menghadapi bahaya dan kesegeraannya menjalankan perintah Allah tanpa menunda-nunda.

Istrinya yang bernama Hajar juga menyiapkan diri menjadi ibu yang baik. Dengarlah kalimatnya ketika ia bersama Ismail –yang masih bayi- ditingalkan Ibrahim di pegunungan Faran yang kini kita kenal dengan Makkah Al-Mukarramah: “Apakah Allah yang memerintahkan hal ini?” Mendengar jawaban iya dari sang suami, ia menzahirkan keimanan yang kokoh: “Kalau begitu, Allah takkan menyia-nyiakan kami.”

Pendidikan anak yang sukses bukan dimulai setelah anak itu lahir. Apalagi menunggunya sampai usia masuk sekolah. Dalam Islam, pendidikan anak bahkan dimulai sebelum anak itu berada di dalam rahim sang ibu. Karenanya, Rasulullah memerintahkan memilih pasangan hidup karena pertimbangan agama.

"Dengan demikian," kata Abdullah Nasih Ulwan dalam Tarbiyatul Aulad, "pendidikan anak dalam Islam harus dimulai sejak dini. Yakni dengan pernikahan ideal yang berlandaskan prinsip-prinsip yang secara tetap mempunyai pengaruh terhadap pendidikan dan pembinaan generasi."

Lalu bagaimana jika keluarga itu telah terbentuk dengan permulaan yang tidak ideal? Alih-alih membubarkannya, kita hanya perlu memperbaikinya. Masih ada waktu. Jika kita menginginkan anak-anak yang baik, jadikanlah diri kita terlebih dahulu sebagai (calon) orang tua yang baik. Jika kita merindukan anak-anak yang berbakti, jadikanlah diri kita menjadi orang tua yang pantas dihormati dan mendapatkan bakti.

Kekuatan Doa

Jauh sebelum Ismail lahir, Ibrahim selalu berdoa kepada Allah; bukan hanya bermunajat agar dikaruniai anak karena kini ia telah berusia tua, tetapi bermunajat agar dikarunia anak yang shalih. "Ya Rabbi...," demikian doa Ibrahim sebagaimana dicantumkan dalam QS. Ash-Shaaffaat ayat 100, "anugerahkanlah kepadaku (anak) yang termasuk orang-orang yang shalih."

"Doa adalah senjata mukmin," sabda Rasulullah SAW ribuan tahun kemudian. Maka untuk mendapatkan anak yang shalih, senjata itu harus dipakai setiap orang tua muslim. Menjadikan anak menjadi shalih berarti mengubah hati. Sedangkan penguasa hati adalah Allah. Kalau bukan Allah yang mengubahnya, kepada siapa lagi kita menyerahkan urusan yang luar biasa besar ini?

"Banyak orang tua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena kepandaiannya mendidik anak," tutur M. Fauzil Adhim dalam Saat Berharga untuk Anak Kita, "tetapi karena doa-doa mereka yang tulus. Banyak orang tua yang caranya mendidik salah jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi penyejuk mata yang membawa kebaikan dikarenakan amat besarnya pengharapan orang tua."

Bermusyawarah

Inilah tradisi parenting Nabi Ibrahim. Ia mengajak anaknya bermusyawarah, meskipun dalam persoalan kewajiban yang diketahuinya perintah Tuhan. Kita pun kemudian terkenang dengan kalimat Ibrahim yang dikabarkan Al-Qur'an dalam bahasa yang menyentuh: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" (QS. Ash-Shaaffaat : 102).

"Ibrahim tidak mengambil anaknya dengan paksa untuk menjadikan isyarat Rabbnya itu hingga cepat selesai," tulis Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur'an ketika menafsirkan ayat ini, "Tapi... menyampaikan hal itu kepada anaknya seperti menyampaikan sesuatu hal yang biasa."

Anak yang biasa dimintai pendapatnya, ia akan merasa dirinya penting dan berharga. Sebuah emosi positif yang sangat mendukung perkembangan kecerdasannya. Anak yang diajak bermusyawarah dan didengarkan apa keinginannya, -kalaupun kurang tepat kemudian diarahkan- akan tumbuh kepercayaan dirinya. Ia menjadi subyek, bukan obyek. Dan itulah yang dilakukan Ibrahim pada Ismail. Wallaahu a'lam bish shawab.

****
sumber : muchlisin.blogspot.com

Senin, 15 November 2010

Penyesalan...

Postingan bunda ini bukan mau meresensi tentang film terbaru 'heart 2 heart'. Dan mudah-mudahan postingan bunda kali ini juga ga akan membuat blog ini di suspend. Karna postingan kali ini bunda tulis dengan penuh keprihatinan. Lho?? Kenapa??

Jadi waktu sabtu kemarin, saat bunda hanya berdua aja dengan shishil (ayah dikantor barunya ini hari sabtu masuk) dan bunda sedang nyuapin shishil makan siang. Tiba-tiba saat shishil nengok ke tv pas ada iklan film terbaru 'heart 2 heart', awalnya sih ga ada masalah, sampai tiba pada adegan dimana pasangan pemeran utamanya melakukan kissing di tepi danau (bunda telat ganti channel karna memang ga tau akan ada adegan spt itu di tv); shishil lantas deketin bunda dan mencium bunda berkali2 (padahal yg di tv cuma sekali) seperti yang dilihatnya di iklan tadi (biasanya bunda juga kalo cium shishil mulai dari pipi, dahi, hidung, dagu, bibir hehehe dan shishil kadang ikut2an cium ayah / bunda seperti itu, tapi kalo lagi mau aja).

Bunda jadi menyesal setengah mati, kenapa tadi ga cepat2 ganti channel, kenapa juga bunda tiba-tiba kepingin nonton tv (biasanya setel CD jalan sesama / elmo / brainy baby seharian full), kenapa adegan seperti itu bisa ada di televisi yang konsumennya dari berbagai usia, kalo memang itu lolos sensor kenapa juga tayang di jam anak2 nonton tv (siang hari bukan malam hari). Semuanya berkecamuk di benak bunda, akhirnya bunda langsung setel CD lagi sampai shishil bosan sendiri (padahal ga ada bosannya dia).

Ga tau deh apa perasaan bunda ini salah atau ngga, cuma bunda ga ingin shishil dewasa sebelum waktunya karna melihat hal2 yang tidak / belum seharusnya dilihat. Untung yang didekat shishil waktu itu bunda, jika oranglain yang menganggap itu hanya tontonan tanpa ada pengaruh apapun untuk shishil kelak? Bagaimana juga jika yang melihat itu anak yang sudah mengerti tentang hubungan lawan jenis dan akhirnya jadi menganggap hal itu wajar dilakukan?? Bunda bener2 ga bisa bayangin, jika shishil yang baru 1,5 tahun aja reaksinya begitu, apalagi anak lain yang lebih besar.

Bukan bunda ga suka dengan film yang ada adegan itu, bukan. Bunda suka nonton koq, juga suka dengan film 'heart' yang sebelum ini. Tapi bunda ga suka dengan adegan yang 'itu', entah sebelum tayang iklannya di tv diadakan sensor terlebih dahulu atau tidak.

Kalo sudah seperti ini jadi kepikiran untuk punya channel yang khusus untuk usia batita seperti shishil. Biasanya aybun cuma setelin CD aja seharian full bahkan sampe menjelang shishil tidur kembali (kalo shishil tidur sih dimatiin juga DVD playernya). Sepertinya benar2 harus diperketat lagi soal jam nonton tv untuk shishil, kecuali CD tentunya

Bagaimana dengan pendapat ibu, mama, bunda yang lain?? Salah ga sih yang bunda rasakan ini??

Selasa, 02 November 2010

Insiden di tengah malam

Tadi malam ada kejadian yang kurang mengenakkan untuk kami sekeluarga. Entah kenapa shishil yang awalnya sudah tidur dari jam 9 malam, tiba2 bangun jam 12. Awalnya minta minum, tapi setelah itu bukannya tidur lagi [biasanya tidur sendiri] malah segar matanya dan ngajak bundanya main.

Bunda yang dasarnya sudah ngantuk berat, akhirnya ga terlalu semangat nemaninnya, malah ga lama ni mata merem sendiri, hehehe [padahal ga tidur loh]. Shishil masih dengan asyiknya bongkar2 laci lemari box dan nemu 1 kotak kassa yang langsung dibawa ke kasur. Mainan sendiri dikasur sambil sesekali colek2 bundanya [ayahnya mah dah ke pulau mimpi].

Lama ditunggu koq ya ga tidur2 juga, akhirnya bener2 bunda cuekin, nanti ngantuk juga tidur sendiri begitu pikiran bunda. Tapi koq ya makin ga tidur2, bunda khawatir jam tidurnya terganggu, ga pernah loh dia begini. Bisa2 besok bangunnya siang lagi, kasian kan ayah bundanya mo ngantor tapi ga sempat ketemu karna shishilnya masih tidur [aybun biasakan pamit terang2an ke shishil saat mo ngantor], juga shishil kalo pagi ga sempat nenen sampai puas biasanya seharian dia uring2an. Juga bunda ga mau besok2 jadi kebiasaan main saat bangun tengah malam yang biasanya cuma minum aja. Makanya bener2 bunda cuekin abis [tega ga sih?]sambil berharap shishil segera tidur [ayah bundanya juga jadi ga bisa tidur cuma merem aja tapi tetep terganggu].

Ga lama mulai uring2an juga dia minta nenen, bunda kasih tapi tetep masih mo main, akhirnya tuh nenen bunda cabut [berharap shishil ngerti kenapa bunda kesal]. Walaupun tau bundanya marah, tetep shishil maunya nenen sambil mainan. Karna tau bundanya nyuekin, mulai deh bangunin ayahnya [bukan minta minum/apa, tapi minta temenin mainan]. Agak lama deh insiden kecil ini terjadi, yang ujungnya shishil nangis karna keasyikan bermainnya bunda larang, tapi biasanya kalo dah nangis gini ga lama akan tidur kalo dikasih nenen. Alhamdulillah, tidur juga dia dan efeknya keliatan di pagi hari saat aybun bangun utk memulai aktifitas, masih ngantuk banget booo... shishil pun jadi susah dibangunkan pagi harinya... fiuuhhh...

Paginya setelah googling sana sini akhirnya bunda dapatkan beberapa opsi kenapa hal diatas bisa terjadi, antara lain :
1. Pola tidur orangtua yang memang seperti itu juga (tidur larut malam)
2. Faktor bawaan
3. Belum terbentuknya jam biologis
4. Menuntut perhatian orangtua

Dari beberapa faktor diatas, keliataannya yang cocok dengan shishil cuma yang terakhir. Bukan berarti aybun pulang kerja malam dan waktu bermain shishil dengan kami terbatas, ngga sama sekali. Kami sampai dirumah sekitar maghrib, setelah itu adalah jam bermain dengan shishil hingga dia pergi tidur [disela2 itu tentu ada makan malam]. Jadi bisa dibilang waktu bermainnya cukup panjang [ini menurut bunda], entah dipihak shishil apa waktu sekitar 3-4 jam ini cukup sebelum dia tidur dan pagi sebelum aybun ngantor.

Anggap aja memang shishil belum puas bermain dengan orangtuanya, maka saat terbangun tengah malam pun yang diingatnya bermain. Sungguh bukannya bunda melarang dia bermain, tapi bunda tak ingin waktu tidurnya terganggu, bunda pun tak ingin shishil merasa bahwa hal itu benar dan selanjutnya akan diulangi lagi.

Seperti yang diungkapkan Mira D. Amir, Psi. bahwa tega ga tega perilaku si kecil itu tidak bisa dibiarkan terus. Kalau setiap larut malam anak ingin bermain dan diladeni terus, maka akan terjadi suatu kondisi yang dalam bahasa psikologinya disebut sebagai reinforcement (penguatan). "Anak akan menganggapnya sebagai suatu pola yang dapat diterima. Dia bisa berpikir, 'Ah kalau besok aku bangun malam lagi dan minta main, pasti Papa mau nemenin. Kan asyik. Dengan kata lain anak akan terdorong untuk melakukan hal yang sama keesokan hari dan selanjutnya. Ini sebetulnya yang perlu dihindari".

Entah mommy, mama, bunda diluar sana apa pernah mengalami hal seperti ini juga ?? Dan apa yang dilakukan ?? Jujur aja bunda sebetulnya ga tega, tapi terpaksa bunda lakukan demi kebaikan shishil sendiri. Ngerasa bersalaaahhhh banget...

Selasa, 11 Mei 2010

Ayah.. Maafkan Dita..

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya. 

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. 

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah. 

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar.. Dia juga beristighfar. . Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi. 

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …. kan !” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. 

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. 

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air.. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak. 

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ditadalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. 

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhubadan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikanterkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi. 

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam lina ngan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris. 

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?…. Bagaimana Dita mau bermain nanti?…. Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf… 

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..


*******


nb : artikel ini tidak mengarah ke siapapun, adapun kesamaan nama itu adalah suatu kebetulan belaka untuk melengkapi artikel ini.. ^_^


Join d'BC Network

Kamis, 04 Maret 2010

Obat Tradisional untuk Bayi

Disaat cuaca tak menentu seperti sekarang ini, bayi rentan terhadap penyakit. Tapi jika sudah terlanjur terkena penyakit (ringan), maka janganlah cepat2 memberi obat kimia kepada bayi. Masih ada obat2an tradisional yang bisa ayah & bunda gunakan untuk mengobatinya, kasian bayi kita jika sudah terkena obat2an kimia. Karna seperti yang saya ketahui, obat2an kimia hanya akan membuat bayi menjadi ketagihan dan tubuhnya akan kebal terhadap obat2an tersebut, akhirnya bayi tidak takut lagi kepada obat2an kimia.

Berikut adalah daftar obat2an tradisional yang bisa ayah & bunda gunakan :

Bawang Merah Untuk menurunkan demam, parut bawang merah secukupnya, balurkan di tubuh bayi/anak.

Untuk borok, 3 siung bawang merah dan 2 jari rimpang kunyit dicuci, diparut, lalu dicampur dengan 2 sendok minyak kelapa baru. Hangatkan diatas api kecil sambil diaduk. Setelah dingin, oleskan pada bagian tubuh yang sakit sebanyak 2 kali sehari.

Untuk masuk angin, 8 siung bawang merah, dicuci, tumbuk halus, campur dengan air kapur sirih secukupnya. Balurkan dipunggung, leher, perut dan kaki.

Jahe Untuk menghilangkan masuk angin, perut kembung dan kolik pada anak. Caranya,¼ sendok teh bubuk jahe kering dilarutkan dalam ½ cangkir air panas. Berikan 1-2 kali per hari sesuai umurnya.

Kunyit (kunir) Untuk diare, ½ jari kunyit dan 3 lembar daun jambu biji muda segar dihaluskan, campur dengan ½ cangkir air, lalu diperas. Setelah disaring, diminumkan pada anak sekehendaknya.

Untuk kulit berjamur atau becak putih jamur/ruam popok karena pemakaian diapers, parut kunyit lalu oleskan.

Daun jambu Biji (jambu klutuk, jambu batu) Untuk diare, 3 lembar daun jambu biji muda dan segar dicuci bersih, tumbuk halus, beri ½ cangkir air matang hangat, diperas dan diambil airnya. Beri garam secukupnya sebelum diminumkan pada anak. Air perasan diberikan pada anak sekehendaknya.

Belimbing wuluh (belimbing asam, belimbing buluk) Biasanya digunakan untuk obat batuk anak. Caranya, kukus (dalam panci Kecil tertutup selama beberapa jam) satu genggam (sekitar 11-12 gram) bunga belimbing wuluh segar, 5 butiradas, 1 sendok makan gula batu dan 1/2 gelas air. Saring dan minumkan 2-3 kali per hari dengan dosis sesuai usia anak.

Mengkudu (pace) Untuk meringankan perut kembung pada bayi. Caranya, panaskan daun mengkudu diatas api beberapa saat, lalu olesi minyak kelapa segar / yang baru. Tempelkan pada perut anak sewaktu hangat. Bisa diulang beberapa kali.

Kemiri Berkhasiat menyuburkan rambut bayi. Caranya, minyak kemiri dioleskan pada kepala bayi/anak sambil dipijat perlahan setiap malam. Pagi hari rambutdisampo dan dibilas dengan air hangat hingga bersih. Minyak kemiri ini lebih baik yang sudah jadi.

Air Kelapa Muda Dapat digunakan untuk obat muntaber karena air kelapa muda banyak mengandung mineral kalium, yang banyak keluar ketika anak muntaber. Dosisnya tak ada takarannya, sekendak anak.

Brotowali (Putrawali, andawali) Untuk pemakaian luar bermanfaat menyembuhkan luka-luka dan gatal-gatal akibat kudis (scabies). Caranya, 2-3 jari batang brotowali dipotong kecil-kecil, rebus dengan 6 gelas air. Setelah mendidih, biarkan selama ½ jam. Saring air dan gunakan untuk mengobati luka serta gatal-gatal.

Jeruk Nipis Untuk mencairkan dahak dan obat batuk anak. Caranya, campur 1 sdm air perasan jeruk nipis, 3 sdm madu murni, 5 sdm air matang, lalu ditim selama 30 menit. Takaran minum bayi antara usia 6-1 tahun : 2 kali 1/2 sdt ; anak 1-3 tahun : 2 kali 1 sdt; anak 4-5 tahun : 2 kali 1 1/2 sdt. Cara lain, potong 1 buah jeruk nipis, peras airnya, taruh dalam gelas / cangkir. Tambahkan kecap manis, aduk. Takaran minum untuk anak, 3 kali 1 sdt per hari.

Kentang Untuk obat bisul. Caranya, parut kentang dan peras. Oleskan sari air dan parutan kendtang segar dioleskan pada bisul 3-4 kali per hari Bisa pula untuk ruam kulit yang disebabkan biang keringat atau keringat buntet (miliaria), karena sifat kentang yang mendinginkan.

Banglai (bangle, panglai, manglai, pandhiyang) Untuk menenangkan bayi dan anak yang sering rewel pada malam hari, Balurkan parutan banglai segal di kening dan badan anak.

Minyak zaitun Untuk mengobati kerak kepala atau ketombe pada bayi (craddle crap), sebanyak 1-2 kali per hari dioleskan pada kulit kepala.

Lidah buaya Untuk mengobati luka bakar pada bayi dan anak. Caranya dengan mengoleskan daging daun lidah buaya pada seluruh permukaan kulit yang menderita luka bakar.
Daun pepaya. Berkhasiat meningkatkan nafsu makan, menyembuhkan penyakit malaria, panas, beri-beri dan kejang perut. Caranya, daun pepaya muda ditumbuk, diperas, saring, lalu minum airnya.

Temulawak (koneng gede) Untuk menambah nafsu makan. Caranya, 150 gram temulawak 50 gram kunyit segar dikupas, iris tipis, rendam dalam 500 cc madu kapuk dalam toples tertutup selama 2 minggu. Setelah 2 minggu ramuan siap untuk digunakan. Aturan minum : 1 sendok makan madu temulawak dilarutkan dalam ½ cangkir air hangat, diminum pagi dan sore.

Kencur Untuk meringankan batuk pada anak. Caranya, 5 gram kencur segar dicuci bersih, parut, lalu tambahkan 2 sdm air putih matang dan diaduk. Setelah disaring, tambahkan 1 sdm madu murni. Berikan 2-3 kali sehari.

Adas (fennel) Teh adas dapat dipakai untuk meringankan bayi yang menderita kolik atau yang kesakitan akibat erupsi (keluarnya) gigi. Untuk obat masuk angin dan kolik, caranya 1 sdt teh adas dilarutkan dengan 1 cangkir air mendidih, aduk hingga larut. Setelah agak dingin, larutan dapat diminumkan pada bayi/anak dengan takaran sesuai umurnya

Kamis, 21 Januari 2010

What is Sekolah Alam

Sekolah alam memang bukan sekolah biasa. Tak punya gedung kelas yang megah. Siswanya tak berseragam. Bagi sekolah alam, itu bukan hal yang utama. Pak Lendo mengilustrasikan konsep sekolah alam sebagai berikut. "Pendidikan terbaik itu khan yang dilakukan oleh Rasulullah. Saat itu sahabat hanya belajar di tempat beratap pelepah kurma. Tapi gurunya kualitas nomor satu, Rasulullah." "Bagaimana Rasulullah mengajar? Rasulullah mengajar dengan contoh, dengan teladan. Makanya di sekolah alam, guru juga harus memberikan teladan. Tempat boleh jadi seadanya, tapi siswa akan dibentuk agar berperilaku akhlak terbaik."

Nah, kalau kita lihat mayoritas sekolah mengutamakan pada pembangunan fasilitas fisik. Hal ini yang kemudian membuat biaya melambung tinggi. Memang apabila ingin membuat sekolah yang bagus, sekolah dengan standar internasional, biayanya mahal. Harus punya laboratorium yang bagus, perpustakaannya lengkap, dan seterusnya. Sekolah alam berpikir bagaimana agar biaya dapat ditekan, namun kualitas sekolah seperti layaknya sekolah internasional. Salah satunya dengan mengikuti prinsip pendidikan Rasulullah tadi. Tempat boleh seadanya, tapi guru harus berkualitas terbaik. Bagaimana agar guru dapat mengeluarkan performa terbaiknya? Buatlah kesejahteraannya terjamin. Maka dari itu, biaya di sekolah alam untuk kesejahteraan dan pengembangan guru cukup besar.

Kembali ke kisah pertama, boleh jadi para ibu tadi belum siap dengan konsep sekolah alam. Sehingga walau gratis sekalipun, mereka menolak untuk bersekolah di sekolah alam. Ketika konsep sekolah alam ini kemudian ditawarkan ke kalangan menengah ke atas, ternyata ada yang menyambut, ada yang tertarik, ada yang menyekolahkan anaknya di sekolah alam. Walau begitu, sekolah alam tetap menyediakan tempat bagi mereka yang dhuafa. Memang sebenarnya untuk mereka lah sekolah ini dibuat khan?

Mengenai konsep pembelajaran, sekolah alam memadukan antara kurikulum sekolah internasional, kurikulum depdiknas, dan kurikulum khas sekolah alam. Rapor yang diberikan kepada siswa ada dua, yaitu rapor akademis sesuai standar diknas dan rapor khas SA berupa portofolio siswa. Pada dasarnya materi yang diberikan di sekolah alam sama dengan sekolah biasa, namun metode penyampaiannya menggunakan sistem spider web. Apabila dalam membentuk logika ilmiah digunakan metode spider web, maka dalam membentuk jiwa kepemimpinan digunakan metode outbound. Mungkin outbound ini yang paling dikenal orang dari sekolah alam. Banyak orang yang lebih mengenal sekolah alam sebagai sekolah yang "ngajarin" siswanya untuk "manjat-manjat".

Konsep terakhir, yaitu membentuk jiwa wirausaha. Pak Lendo kembali melihat Rasulullah saw dan para sahabat. Apa yang membuat mereka cepat dewasa? Apa yang membuat mereka mampu mandiri di usia remaja? Ternyata adalah faktor wirausaha. Bisnis. Rasulullah saw dan para sahabat sejak belia mengenal dunia bisnis. Dimulai dari menggembala domba, ikut perniagaan ke Syam, menjadi pegawai dari Khadijah ra. Itulah kisah bisnis Rasulullah. Mau tidak mau saya pun setuju dengan logika ini. Pengalaman pribadi saya selama wirausaha banyak membentuk pemikiran saya saat ini. Dengan wirausaha saya belajar membuka diri, belajar untuk bersabar, bahkan belajar untuk selalu ingin belajar.

Sebagai rangkuman, sekolah alam adalah sebuah model pendidikan holistik yang memanfaatkan alam semesta sebagai media belajar. Adapun metode belajarnya sbb. 1. Dalam membentuk akhlaqul karimah, digunakan metode keteladanan. Guru harus mencontohkan akhlaq secara nyata kepada siswa. 2. Dalam membentuk logika ilmiah, digunakan metode spider-web, alam & bisnis sebagai media belajar. Guru memfasilitasi siswa berinteraksi dengan alam dengan rangkaian tema/projek pembelajaran sedemikian rupa sehingga anak mendapatkan pemahaman yang holistik tentang alam semesta. 3. Dalam membentuk jiwa kepemimpinan, digunakan metode out-bound sebagai media belajar. Guru melakukan aktivitas out-bound secara praktis bersama siswa. 4. Dalam membentuk jiwa wirausaha, digunakan metode magang agar murid berinteraksi dengan unit, pelaku dan lingkungan bisnis.


~ Copas from Sekolah Alam Tangerang ~
Dari dulu bunda ingin sekali bisa sekolahin shishil di Sekolah Alam. Karna dari alamlah manusia berasal dan dari alamlah manusia bisa belajar segalanya; belajar berinteraksi dengan dirinya sendiri, dengan alam, dengan manusia, terutama dengan Allah swt. Semoga kelak keinginan ini terwujud. Amin :D

Rabu, 13 Januari 2010

100 real per jam

Bocah kecil itu menemui ayahnya yang payah karena bekerja. Sebab dari pagi hingga sore, ia mengontrol berbagai proyek dan kontraknya. Ia tidak punya waktu untuk diam dirumah selain untuk makan dan tidur.

Bocah : 'Ayah, kenapa engkau tidak lagi mau bermain denganku dan bercerita kepadaku? Aku sangat merindukan cerita2mu dan ingin bermain denganmu. Bagaimana pendapatmu bila hari ini engkau bermain sebentar denganku dan bercerita satu kisah kepadaku?'

Ayah : 'Anakku, aku tidak punya waktu untuk bermain dan membuang2 waktu. Karena aku punya pekerjaan dan waktuku sangat berharga.'

Bocah : 'Berilah aku satu jam saja dari waktumu, karena aku sangat merindukanmu, wahai ayahku.'

Ayah : 'Anakku tercinta, aku bekerja dan berjuang untuk kalian. Dan waktu satu jam yang engkau inginkan agar aku habiskan bersamamu itu, bisa aku pakai untuk mendapatkan penghasilan tidak kurang dari 100 real. Jadi, aku tidak punya waktu untuk sesuatu yang sia2 bersamamu. Ayo pergilah dan bermainlah bersama ibumu.'

Hari demi hari berlalu, dan kesibukan sang ayah semakin bertambah. Suatu hari bocah itu melihat pintu kamar ayahnya terbuka, maka ia masuk menemui ayahnya.

Bocah : 'Ayah berilah aku 5 real.'

Ayah : 'Untuk apa? Setiap hari aku memberimu uang 5 real. Untuk apa uang sebanyak itu? Ayo, pergi dari hadapanku. Aku tidak akan memberimu apa2 sekarang.'

Si anak pun pergi dengan perasaan sedih. Sementara sang ayah duduk sambik berfikir tentang apa yang dilakukannya terhadap anaknya. Dia pun memutuskan untuk pergi ke kamar anaknya untuk menghiburnya dan memberikan 5 real kepadanya. Bocah kecil itu sangat gembira menerima uang 5 real tersebut.

Kemudian bocah itu langsung menuju ranjangnya dan membuka bantalnya. Lalu di mengumpulkan uang yang ada dibawahnya dan mulai merapikannya. Lima ral untuk melengkapi jumlah uangnya.

'Ayah, sekarang ambillah uang 100 real ini dan berilah aku waktu 1 jam dari waktumu.' ujar bocah yang polos itu.



Ibrah : Wahai para ayah, dimanakan engkau saat anakmu membutuhkanmu? Berapa banyak waktu yang engkau berikan untuk anakmu? Dimana rasa kasih sayangmu bagi mereka? Wahai para ayah, ingatlah bahwa anakmu membutuhkan kasih sayangmu, membutuhkan senyummu, membutuhkan kebersamaanmu, membutuhkan perhatianmu, membutuhkan semua kebaikan darimu. Mereka tidak butuh uang, mainan, makanan atau harta lainnya, sedangkan engkau tidak memberikan kasih sayangmu pada mereka. Wahai para ayah, kembalilah...

Jumat, 08 Januari 2010

Malaikat dirumahmu..

Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya kepada Tuhan : "Para malaikat disini mengatakan bahawa besok engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah"?

Dan Tuhan menjawab, "Saya telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu."

"Tapi disini, di dalam syurga, apa yang pernah saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk berbahagia."

"Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari. Dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih berbahagia."

"Dan bagaimana saya boleh mengerti saat orang-orang bercakap kepadaku jika saya tidak mengerti bahasa mereka ?"

"Malaikatmu akan bercakap kepadamu dengan bahasa yang paling indah yang pernah kamu dengar; dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, dia akan mengajarkan bagaimana cara kamu bercakap."

"Dan apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu ?""Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa."

"Saya mendengar bahawa di Bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi saya ?"

"Malaikatmu akan melindungimu, walaupun hal tersebut mungkin dapat mengancam jiwanya."

"Tapi, saya pasti akan merasa sedih kerana tidak melihatMu lagi."

"Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang Aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu boleh kembali kepadaKu, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu."

Saat itu Syurga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar, dan sang anak bertanya perlahan, "Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bolehkah Kamu memberitahuku nama malaikat tersebut ?"

"Kamu akan memanggil malaikatmu, BUNDA ."

Kamis, 10 Desember 2009

Belajar dari masa kecil Michael Jackson


Masa Kecil yang Hilang

Niente Senza Gioia (Tiada Hari Tanpa Kegembiraan) demikianlah motto sebuah sekolah usia dini Reggio Emilia, Italia, yang kini metodanya banyak diadopsi ke berbagai benua. Semua bagian di sekolah ini sangat menjaga agar anak merasakan kebahagiaan dan senang bersekolah sejak hari pertama. Pendiri sekolah ini, Loris Malaguzzi, mengatakan "Saya percaya bahwa anak-anak mengharapkan dari orang dewasa kemampuan untuk menciptakan kegembiraan.”

Mengapa masa kecil anak harus bahagia? Kita bisa bercermin dari kehidupan artis Michael Jackson yang kematiannya ditangisi jutaan penggemarnya. Michael Jackson adalah contoh nyata orang yang masa kecilnya tidak bahagia. Semua masalah yang dihadapi di usia dewasanya bermula dari ketidakbahagiaannya di masa kecil. Tak hanya saat berlatih sang ayah menampar dan mencambuknya, namun juga saat akan naik panggung. Barangkali sang ayah menganggap bahwa apa yang ia lakukan semata-mata untuk kesuksesan anak-anaknya. Namun yang terjadi adalah luka batin yang tak tersembuhkan.

Agar tidak pernah lupa menutup jendela kamar sebelum tidur, Joseph Jackson –sang ayah- menggunakan topeng monster, masuk ke kamar saat mereka tertidur lalu berteriak sekencang-kencangnya. Hal inilah yang membuat Michael mengalami trauma dan membuatnya selalu merasa tidak aman dan ketakutan bahkan ketika berada di kamarnya sendiri. Karena itu setelah popular, Michael membayar 40 pengawal untuk melindungi dirinya yang selalu merasa tidak aman.

Kekerasan verbal baik hinaan maupun kata-kata yang mengancam tak kalah menimbulkan luka mental. Sebutan big nose (hidung besar) membuatnya di kemudian hari sering mengubah penampilan melalui operasi plastic hingga berkali-kali.

Sejak usia lima tahun, waktu Michael Jackson habis untuk berlatih dan tampil di berbagai pertunjukkan. Hal ini membuatnya benar-benar kehilangan keindahan masa kecilnya. “Saya suka dengan pertunjukkan, tapi ada saatnya saya hanya ingin bermain.” Demikian pengakuan Jacko sapaan akrab Michael Jackson dalam wawancaranya dengan Oprah Winfrey. “Saya tidak pernah punya masa kecil yang normal.”

Karena itu, saat dewasa, ia mencoba menciptakan apapun yang tak pernah didapatnya di masa kecil. Ia membangun istana di Ranch Neverland, suatu tempat impian yang umumnya ada dalam benak anak-anak. 'Negeri' impian Michael Jackson itu menyediakan kebun binatang, roller coaster, komedi putar, bianglala, kereta api, dll.

Kesuksesan yang dapatkan di dunia musik membuat ia bisa melakukan apa saja baik dengan membangun Neverland maupun untuk gonta-ganti wajah. Namun semua itu tak pernah dapat mengganti kebahagiaan masa kecilnya yang terenggut. Michael tetap merasa kosong dan tidak bahagia. Ia kemudian muncul menjadi sosok yang kepribadiannya sering dianggap aneh, menyimpang, dan menimbulkan kontroversi.

Kebencian akan perlakuan ayahnya yang merampas kebahagiaan masa kecinya tak bisa ditutupi. Dalam surat wasiatnya ia sama sekali tidak mencantumkan nama ayahnya sebagai penerima warisan. Ironisnya, Bubbles, simpanse kesayangannya, justru mendapatkan sebagaian warisannya untuk memastikan sang simpanse hidupnya terjamin.

Kebahagiaan masa kecil…tampaknya sepele, namun sungguh sangat penting. Rasulullah, dikenal sebagai sosok yang sangat mengutamakan kebahagiaan anak-anak. Tindakannya memperlama sujud untuk memberi kesempatan cucu-cucunya bermain di atas punggungnya, adalah contoh kecil bagaimana membuat anak-anak senang, bahkan saat melakukan ibadah.

Melalui kegembiraan anak-anak membangun masa depannya. Sebaliknya tanpa hal itu, seseorang menjadi limbung dan jatuh. Sudahkah kita mengisi hari putra-putri kita dengan kegembiraan?
(Ida S. Widayanti/dimuat di majalah Hidayatullah edisi Agustus 2009)

Rabu, 02 Desember 2009

Membangun Kejujuran

Di sebuah supermarket, sepasang suami istri membawa seorang anak yang berusia sekitar empat tahun. Karena badannya kecil sang anak masih didudukkan di sebuah troli. Ketika mereka mengantri dan sudah berada di posisi dekat kasir, si anak meminta susu yang ia lihat di keranjang orang lain."Aku mau susu coklat itu!" rengek si anak.

"Aduh, rak susunya jauh di sana!" seru ibu seraya pandangannya menyapu supermarket yang sangat besar dan luas tersebut. Si ibu, berkata pada suaminya, "Papa saja yang ambil sana!"
Si bapak yang posisinya ada di depan troli berkata, "Tidak mau, aku posisinya di sini, susah lewatnya, Mama saja yang ke sana!"

Si ibu yang merasa sudah lelah menolak, "Aduh jauh sekali, capek! Aku nggak mau!" Bapak dan ibu tersebut saling tolak-menolak, sedangkan si anak terus merengek minta susu coklat sambil menunjuk keranjang yang pemakainya entah sedang ke mana.

Tiba-tiba si ibu mempunyai ide dan berkata pada anaknya, "Ambil saja, ambil saja dari keranjang itu!" Si ayah kemudian menimpali, "ya sudah ambil saja, kan belum dibayar!" sambil menurunkan anaknya dari troli. Ibu dan bapak tersebut menyuruh anaknya mengambil barang dari keranjang orang lain. Namun anaknya ragu-ragu. "Sudah, ambil cepetan, kasihkan Papa ke sini!"

Bagi para orang tua balita mungkin kerap mengalami hal yang serupa dengan kasus di atas. Sang anak menginginkan sesuatu, di saat situasi dan kondisi sulit. Dalam posisi yang terjepit, banyak orang tua mengambil jalan pintas untuk memenuhi keinginan anaknya. Alasan lelah dan tidak mau repot, kerap membuat orangtua mengabaikan hal yang prinsip.

Pasangan orangtua di atas beranggapan bahwa susu tersebut belum dibayar orang lain, sedangkan mereka akan membayar susu coklat itu di kasir. Saat ia memindahkan susu tersebut dari keranjang orang lain ke troli mereka, dianggap bukan termasuk pelanggaran. Namun orangtua tersebut lupa bahwa cara ia mengambil barang di keranjang orang lain tanpa ijin bukan cara yang benar. Capek bukan alasan untuk melakukan hal yang tidak benar.

Banyak orangtua yang tidak sadar akibat yang terbangun dalam otak anaknya kala mereka mengambil satu langkah dan tindakan untuk memenuhi keinginan atau untuk menghentikan rengekan anaknya.

Anak sesungguhnya belajar banyak hal dari ucapan, tindakan, dan cara mengambil keputusan orangtuanya. Ia membangun pengertian detik demi detik dari semua yang dilakukan orang di sekelilingnya terutama kedua orangtuanya.

Pada kejadian di atas, anak secara tidak langsung diajari oleh kedua orangtuanya bahwa dalam situasi yang sulit, lelah, terburu-buru, boleh mengambil hak orang lain. Mereka lupa bahwa cara yang mereka lakukan adalah salah dan akan merugikan orang lain. Ajaran Islam jelas-jelas melarang hal yang demikian.

Boleh jadi, suatu ketika sang anak mengambil sesuatu milik orangtuanya tanpa ijin. Sang orangtua marah besar pada anaknya. Mereka lupa, bahwa mengambil sesuatu tanpa ijin telah diajarkan sama-sama oleh ibu dan bapaknya ketika anak mereka masih kecil.

[penulis: Ida S. Widayanti, Sumber: Majalah Hidayatullah edisi 10/XXI Februari 2009]

Kamis, 12 November 2009

Cara bijak memarahi anak

Sejak dulu bunda memang senang pada anak-anak dan bunda selalu berusaha menambah ilmu bunda tentang dunia anak-anak dan pengasuhan yang baik, terutama untuk anak-anak bunda kelak (waktu dapat artikel ini belum nikah). Bunda dapat artikel bagus ini di situsnya mas dudung. Berikut kutipannya :


Cara Bijak Memarahi Anak

Sebagaimana senyuman yang damai, kadang kita harus memarahi anak. Ini bukan berarti kita meninggalkan kelembutan, sebab memarahi dan sikap lemah-lembut bukanlah dua hal yang bertentangan. Lemah-lembut merupakan kualitas sikap, sebagai sifat dari apa yang kita lakukan. Sedangkan memarahi -bukan marah-merupakan tindakan. Orang bisa saja bersikap kasar, meskipun dia sedang bermesraan dengan istrinya.

Persoalan kemudian, kita acapkali tidak bisa meredakan emosi pada saat menghadapi perilaku anak yang menjengkelkan. Kita menegur anak bukan karena ingin meluruskan kesalahan, tetapi karena ingin meluapkan amarah dan kejengkelan. Tidak mudah memang, tetapi kita perlu terus-menerus belajar meredakan emosi saat menghadapi anak, utamanya saat menghadapi perilaku mereka yang membuat kita ingin berteriak dan membelalak. Jika tidak, teguran kita akan tidak efektif. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka justru semakin menunjukkan "kenakalannya".

Sekali lagi, betapa pun sulit dan masih sering gagal, kita perlu berusaha untuk menenangkan emosi saat menghadapi anak sebelum kita menegur mereka, sebelum kita memarahi mereka.
Selebihnya, ada beberapa catatan yang bisa kita perhatikan: Ajarkan Kepada Mereka Konsekuensi, Bukan Ancaman

Anak-anak belajar dari kita. Mereka suka mengancam karena kita sering menghadapi mereka dengan gaya mengancam. Mereka melihat bahwa dengan cara mengancam, apa yang diinginkannya dapat tercapai. Dari kita, mereka juga belajar meluapkan kemarahannya untuk menunjukkan "keakuannya".

Saya tidak memungkiri, banyak pengaruh luar yang bisa mengubah perilaku anak. Teman-teman sebaya, khususnya yang sangat akrab dengan anak, bisa mempengaruhi anak. Ia meniru temannya dari cara bicara, bertindak, mengekspresikan kemarahan, sampai dengan kata-kata yang diucapkan. Kadang anak memahami apa yang dikatakan, tetapi terkadang anak tidak tahu apa maksudnya. Ia hanya menirukan apa yang didengar.

Perbincangan kita kali ini bukanlah tentang peniruan. Karena itu marilah kita kembali berbincang bersama bagaimana ancaman kepada anak, acapkali tidak menghasilkan perubahan yang baik. Ancaman tidak banyak bermanfaat untuk menghentikan kenakalan anak atau perilaku yang membuat kita sewot. Sebaliknya, ancaman justru membuat anak belajar berontak dan menentang. Salah satu sebabnya, anak merasa orangtua tidak menyayangi ketika kita meneriakkan ancaman di telinga mereka. Selain itu, kita sering lupa menunjukkan apa yang seharusnya dikerjakan anak manakala kita asyik melontarkan ancaman.

Lalu apa yang perlu kita lakukan? Pertama, Adalah buruk memarahi tanpa memberikan penjelasan. Sekali waktu kita perlu duduk bersama dalam suasana yang mesra dengan anak untuk berbicara tentang aturan-aturan.

Kedua, kita bisa membuat komitmen bersama dengan anak untuk mematuhi aturan. Misalnya, mintalah kepada anak agar tenang ketika ada tamu. Kalau ada yang perlu disampaikan, atau anak menginginkan sesuatu, hendaknya menyampaikan kepada orangtua dengan baik-baik dan bersabar bila belum bisa memenuhinya.

Bersama dengan komitmen ini kita bisa membicarakan dengan anak konsekuensi apa yang bisa diterima bila anak mengamuk di saat ada tamu. Sekali lagi, konsekuensi ini disampaikan dengan nada yang akrab. Bukan ancaman. Bila anak melakukan hal-hal negatif yang sangat mengganggu, orangtua bisa mengingatkan kembali kepada anak dan lagi-lagi tidak dengan nada mengancam.
Di sinilah letak beratnya. Kita acapkali mudah kehilangan kendali. Kita mudah membelalak saat marah, tetapi lupa untuk konsisten.

"Ibu / Bapak Sudah Bilang Berkali-kali."

Perilaku yang menjengkelkan memang lebih mudah diingat, lebih membekas dan cenderung menggerakkan kita untuk segera bertindak. Sebaliknya perilaku positif cenderung kurang bisa mendorong kita untuk memberi komentar, kecuali jika perilaku tersebut benar-benar sangat mengesankan. Konsumen yang kecewa pada suatu produk, akan segera menggerutu ke sana kemari, meski kekecewaan itu sebenarnya tidak seberapa. Tetapi konsumen yang puas cenderung akan diam saja, kecuali jika kepuasan itu sangat menakjubkan. Orangtua dan anak juga demikian. Orangtua mudah ingat perilaku negatif anak, sementara anak mungkin tidak bisa melupakan tindakan orangtua yang menyakitkan hatinya.

Salah satu kebiasaan umum orangtua yang menyakitkan hati anak sehingga bisa melemahkan citra dirinya adalah ungkapan, "Ibu / Bapak sudah berkali-kali bilang, tapi kamu tidak mau mendengarkan."

Ungkapan ini memang efektif untuk membuat anak diam menunduk. Tetapi ia diam karena harga dirinya jatuh, bukan karena menyadari kesalahan. Jika ini sering terjadi, anak akan memiliki citra diri yang buruk. Dampak selanjutnya, konsep diri dan harga diri (self esteem) anak akan lemah. Anak melihat belajar memandang dirinya secara negatif, sehingga lupa dengan berbagai kebaikan dan keunggulan yang ia miliki. Sebaliknya orangtua juga demikian, semakin sering berkata seperti itu kepada anak, kita akan semakin mudah bereaksi secara impulsif. Kita semakin percaya pada anggapan sendiri bahwa anak-anak kita memang bandel, menjengkelkan dan susah dinasehati.

Tidak mudah memang, tetapi kebiasaan memarahi anak dengan ungkapan "Bapak kan sudah bilang berkali-kali" atau yang sejenis dengan itu, harus kita kikis secara sadar dari sekarang. Kita perlu menguatkan tekad untuk berkata yang lebih positif, betapa pun hampir setiap komentar kita masih buruk.

Jangan Cela Dirinya, Cukup Perilakunya Saja

Suatu saat, kira-kira jam setengah dua dini hari seorang anak saya bangun dari tidurnya. Ia kemudian beranjak dan mengajak adiknya yang masih bayi bercanda, padahal adiknya baru saja tertidur. Sebagaimana ibunya, saya juga sempat emosi. Hampir-hampir saya tidak dapat mengendalikan emosi, tetapi saya segera tersadar bahwa yang dilakukan oleh anak saya merupakan cerminan dari dari rasa sayangnya kepada adik. Nah, apa yang terjadi jika saya mencela anak saya? Apalagi kalau saya memelototi dan menghardiknya keras-keras, iktikad baik itu bisa berubah menjadi kemarahan sehingga anak justru mengembangkan permusuhan kepada adiknya. Ia bisa belajar membenci adiknya.

Apa yang saya ceritakan hanyalah sekedar contoh. Tidak jarang anak menampakkan perilaku "negatif", padahal ia tidak bermaksud demikian. Suatu ketika, pulang dari play-group anak saya berkata, "Bapak kurang ajar." Setelah saya tanya maksudnya, ternyata dia tidak mengerti makna kurang ajar. Ia mengatakan, "Kurang ajar itu ya main-main, sembunyi-sembunyian."
Kita sangat mudah keliru menangkap maksud anak. Kita gampang terjebak dengan apa yang kita lihat. Karenanya kita perlu belajar untuk lebih terkendali dalam menilai anak. Jangan sampai terjadi anak punya maksud baik, tetapi justru kita cela dirinya sehingga justru mematikan inisiatif-insiatif positifnya. Bahkan andaikan ia memang melakukan tindakan yang negatif, dan ia tahu tindakannya kurang baik, yang kita perlukan adalah menunjukkan bahwa ia seharusnya bertindak positif. Kita luruskan perilakunya. Bukan mencela dirinya. Sibuk mencela anak membuat kita lupa untuk bertanya, "Kenapa anak saya berbuat demikian?" Di samping itu, celaan pada diri -dan bukan pada tindakan-bisa melemahkan citra diri, harga diri dan percaya diri anak. Pada gilirannya, anak memiliki motivasi yang rapuh.

Sebagian kita merasa tidak merasa mencela anak, padahal ucapan kita menyudutkan anak. Misalnya, "Kamu kenapa tidak mau mendengar nasehat bapak? Heh? Kamu selalu saja ngeyel."
Pada ucapan ini, fokus kemarahan kita adalah anak sebagaimana kita tunjukkan dengan kata kamu. Bukan tindakannya yang salah.

Jangan Katakan "Jangan"

Barangkali tidak ada kata yang lebih sering diucapkan oleh orangtua pada anak melebihi kata "jangan". Kita menggunakan kata jangan begitu melihat anak melakukan tindakan yang kurang kita sukai. Kita juga menggunakan kata jangan, bahkan di saat kita mengharap anak melakukan yang lain. Padahal kata jangan tidak membuat mudah mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Akibatnya, anak sulit memenuhi harapan orangtua, sementara orangtua bisa semakin jengkel karena merasa nasehatnya tidak didengar anak. Orangtua merasa anaknya suka ngeyel (kepala batu, orang Bugis bilang).

Lalu, apakah kita tidak boleh memberi larangan? Saya tidak dapat membayangkan betapa hancurnya sebuah dunia tanpa ada larangan sama sekali. Begitu pun keluarga. jangan katakan jangan pada saat ia sedang melakukan kesalahan. Tunjukkanlah apa yang seharusnya dilakukan. Atau bersabarlah sampai ia menyelesaikan maksudnya, Kalau kita tidak mau anak bermain pasir di teras, katakanlah, "Nak, main pasirnya di teras saja, ya?" Singkat, padat, jelas dan positif. Bukan, "Ayo, jangan main pasir di teras. Saya pukul kamu nanti."

Kapan sebaiknya kita sampaikan larangan? Saat terbaik adalah ketika anak sedang akrab dengan orangtua. Dalam suasana netral, larangan yang kita berikan pada anak akan lebih efektif. Anak lebih mudah memahami. Mereka bisa menerimanya sebagai aturan. Bukan menganggapnya sebagai serangan kepada dirinya.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...