Kamis, 04 November 2010

Melindungi, Mencintai...

Wanita tercipta dari tulang rusuk pria
Bukan dari kakinya untuk dihinakan
Bukan pula dari kepalanya untuk disembah
Tetapi dari tulang rusuk
Yang dekat dengan tangannya untuk dilindungi
Yang dekat dengan hatinya untuk dicintai


Dari seorang teman, saya hafal syair ini sejak SMP. Sampai sekarang saya tidak tahu persis siapa yang menggubah syair ini. Yang saya tahu, substansi syair ini tidak salah. Kata-katanya indah dan memiliki hikmah.

“Adam berjalan sendirian di surga”, kata Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, “Kemudian ia tertidur sejenak. Setelah bangun, dilihatnya duduk seorang wanita di sampingnya. Ia diciptakan dari tulang rusuk Adam” Kita kini mengetahui bahwa wanita itulah nenek moyang segala umat. Namanya Hawa. Ketika Malaikat bertanya kepada Adam, mengapa namanya Hawa, Adam menjawab: “Karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup”.

Kita pun mendapatkan keterangan yang lebih pasti dalam shahihain. “Wanita diciptakan dari tulang rusuk”, sabda Sang Nabi yang didengar langsung oleh Abu Hurairah.

Sejarah pernah mencatat dua model perlakuan kepada wanita yang melampaui batas. Yang pertama adalah menghinakannya. Di masa Arab Jahiliyah, misalnya, wanita tidak begitu dianggap selain “mesin reproduksi”. Sebagian besar orang Arab bahkan merasa anak perempuan sebagai beban dan aib. Maka, muncullah tradisi mengubur anak perempuan hidup-hidup. Di masa Yunani, posisi wanita juga tidak lebih baik. Para filosof bahkan saling berdebat apakah wanita memiliki jiwa atau tidak.

Sekarang? Masih banyak penghinaan wanita dalam bentuknya yang berbeda. Dalam balutan “modernitas” wanita direndahkan dengan cara yang lain. Dieksploitasi, difungsikan sebagai “marketing tools” dan pemuas nafsu kapitalisme. Kecantikan, keindahan kulit, dan keelokan tubuh menjadi standar “nilai jual” mereka.

Ada pula catatan-catatan kecil sejarah yang mendudukkan wanita secara salah dalam memuliakannya. Catatan minor ini hendak dituntut kembali oleh sebagian kecil orang atas nama kesetaraan gender. Jika segala urusan keluarga beserta pengambilan keputusannya diambil alih oleh wanita, dan sang suami tak lebih dari prajurit setia buta, itu juga awal dari kehancuran dari arah yang berbeda.

Maka interaksi seorang suami kepada istrinya mensyaratkan dua hal: melindungi, mencintai. Melindungi bukanlah mengungkungnya dalam penjara jiwa. Bukan sikap protektif yang merampas hak-haknya. Allah pernah memperingatkan para shabat agar tidak melarang istri-istrinya ke masjid. Melindungi bukan berarti memasungnya dalam cinta. Apatah lagi dalam kungkungan tanpa cinta.

Melindungi wanita dengan demikian adalah membentenginya dari kesengsaraan jiwa. Dan tiada kesengsaraan jiwa yang lebih pedih daripada terperosok dalam neraka. Maka dalam melindungi, QS. At-Tahrim ayat 6 menjadi kaidahnya: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”

Sebenarnya antara melindungi dan mencintai sulit untuk dipisahkan agar berdiri sendiri-sendiri. Seorang suami yang mencintai istrinya, ia akan melindunginya dengan segenap kemampuannya. Seorang ayah yang mencintai anaknya juga akan mati-matian melindungi mereka dari segala bahaya.

Bahkan kata-kata dan ungkapan cinta pun, dengan sendirinya ia menjadi perlindungan bagi orang yang dicintai. Hingga Mary Carolyn Davies mempuisikan dengan indah:

Ada sebuah tembok yang kuat
Di sekelilingku yang melindungiku;
Dibangun dari kata-kata yang kau ucapkan padaku


Meski tak dapat dipisahkan, keduanya –melindungi dan mencintai- tetap dapat dibedakan. Melindungi adalah bagian dari mencintai. Melindungi hanyalah salah satu konsekuensi mencintai. Melindungi adalah memberikan rasa aman, sementara cinta bukan hanya memberikan keamanan. Pada saat yang bersamaan atau bahkan sebelum melindungi, pekerjaan pecinta adalah memberikan perhatian. “Kalau intinya cinta adalah memberi”, kata Anis Matta dalam Serial Cinta, “maka pemberian pertama seorang pecinta sejati adalah perhatian”.

Perhatian dalam pekerjaan mencintai membuat seorang suami berkata kepada istrinya: “Aku mencintaimu sebagaimana kamu adanya”. Namun pecinta sejati tidak boleh berhenti di sini. Ia harus melanjutkan dengan tahap berikutnya: penumbuhan. Pada mulanya ia menerima segala kondisi kekasihnya. Namun dalam cinta, ia memberikan sentuhan edukasi pada hubungan cinta. Jadilah istrinya lebih shalihah, lebih cerdas, lebih dewasa, dan seterusnya.

Mencintai bukan berarti membiarkan tulang rusuk kita tetap bengkok. Dengan semangat penumbuhan kita diajari Sang Nabi dalam Shahihain: “Berwasiatlah yang baik kepada kaum wanita. Sebab, wanita diciptakan dari tulang rusuk. Sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah tulang rusuk bagian atas. Bila engkau hendak meluruskannya, maka ia akan patah. Dan bila engkau biarkan, maka ia akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kebaikan kepada kaum wanita.”

****

sumber :
Bersama Dakwah ~ muchlisin.blogspot.com

10 komentar:

windflowers mengatakan...

alangkah nyaman dan bahagianya berlindung di dada bidang itu...penuh pengayoman dan pengertian..alami...indah...

selamanya saling menyirami agar ia tetap tumbuh sampai akhir nanti...

ibunyachusaeri mengatakan...

Top bgt deh mbak tulisannya :)

Lidya mengatakan...

daleeeem pisan tulisanana :) top deh

Zulfadhli's Family mengatakan...

Waaahhhh jadi makin cinta sama Ayah Zahia :-)

Herien Kriestia mengatakan...

@ mba winda : betul mba, hubungan yang dilandasi oleh cinta akan terasa lebih indah, terlebih jika cinta itu karna Allah swt, niscaya cinta itu akan terasa lebih nikmat :)

@ ibunya chusaeri : makasih bu ^^

@ mba lidya : makasih mba, semoga kita mampu mengaplikasikannya dlm kehidupan sehari2 ya mba

@ bunda zahia : aminn... alhamdulillah jika tulisan ini mampu menginspirasikan banyak orang [wah jadi ga nyambung nih omongannya, hehe]. kalo makin cinta, di peluk donk bun, hihi

BunDit mengatakan...

TFS Bun. Dulu yang paling saya takutkan dalam pernikahan adalah KDRT *kebanyakan berita KDRT sih*. Alhamdulillah saya mendapat suami yang jangankan KDRT, marah pun hampir tidak pernah :-)

Herien Kriestia mengatakan...

@ BunDit : alhamdulillah ya bun. Aku jg alhamdulillah mendapat suami yang terbaik yg menerimaku apa adanya... ^^

advertiyha mengatakan...

Bener banget, menghargai wanita itu adalah dengan melindungi dan mencintainya dengan tulus ikhlas.. :)
kekerasan atau perendahan akan membuat jiwa wanita sakit, dan itu lebih parah dari sakit fisik....

Alhamdulillah suami saya super sabar bun, malah kadang bikin gemes, hehehe....

salam buat sisil cantik.. :)

Herien Kriestia mengatakan...

@ tante iyha : betul mba iyha, wanita itu kan berasal dari tulang rusuk pria, ga bs dikerasin krn bisa membuatnya patah, tapi jg ga bisa didiamkan krn akan membuatnya tetap bengkok. Alhamdulillah suami mba iyha mendapat suami yg terbaik...

shishil say : tante iyha main sm shishil yukk... *sambil peluk tante iyha*

kesehaRian Ra-Kun mengatakan...

salam kenal ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...